Matur Suksma, Bli.

Yogyakarta, 4 Februari 2015


Linglung.
Lelah yang bersemayam di tubuh membuat rasanya tak enak badan ku. Mungkin bila dimasakan, bagai tanpa garam. Perjalanan yang meletihkan di pulau mu membuat penglihatan kabur tapi tidak setelah melihat senyummu.

"Itu loh...itu..yang main itu...yang di baris belakang itu..manis kan..."

Tak hentinya rangkaian kata itu ku sampaikan kepada sahabat ku yang kala itu tubuhnya menjadi penopang tubuh ku saat kami berjalan mengitari Bali Classic Center. Kau ada di sana. bersama teman-teman mu memainkan wayang Bali untuk menghibur kami.
Bali yang mempesona membuat ku jatuh cinta. Pandangan pertama padamu, membiarkan mata ku melekat untuk menatap mu. Untung hanya mata, bukan hati. Bagaimana tidak, lelaki asli Bali, dengan 'udeng' di kepalanya, berhasil tak memalingkan pandangan ku.

Tak diduga, ketika letih benar-benar datang karena matahari yang tak bersahabat, seketika hilang, saat ku tahu kau sadar bahwa aku memerhatikan mu. Malu. Malu. Malu. Rasanya ingin ku gantikan pemain barong yang sedang beratraksi saat itu. Biar, biar saja aku sembunyi karena curi-curi pandang ku yang ketahuan.

Logat Bali mu adalah satu dari ratusan alasan yang buat mata ku tak berpaling dari wajah mu. Ah bahagianya seandainya aku bisa lebih lama di Bali. Mungkin akan ku ulangi untuk datang ke BCC agar bisa menjumpai mu lagi. Menit yang kita lalui, hanya saling pandang, melempar senyum, dan untungnya sempat ku abadikan wajahmu dalam kamera ku. Setidaknya saat aku kemBALI, aku ingat wajah seperti apa yang harus ku cari.

Pertemuan singkat, hitungan menit, tapi selalu ku ingat.
Lelaki Bali dengan logat khasnya dan udeng di kepala.
Bli, siapa nama mu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia