Alafu.
Yogyakarta, 14 Februari 2014
Setahun silam.
Malam itu dengan perut yang lapar aku bingung apa yang harus ku makan. Pikiran pun sedang runyam atas tugas-tugas ku yang tak kunjung terselesaikan. Kemudian dorongan dari perut yang mengharuskan untuk diisi sesuatu, mengiyakan langkah ku untuk pergi ke sebuah supermarket yang letaknya tak memakan banyak waktu. Sebuah ice cream menjadi penyelamat dalam malam yang gelap dan hasrat ingin makan yang kuat.
Sekembalinya aku, rasa ingin menunjukan kepada media sosial bahwa aku tlah membeli sebuah ice cream tampaknya lebih kuat dari rasa ingin ku untuk memakannya. Jadilah ku ambil gambar dari es tersebut, kemudian upload ke akun instagram ku yang mana tlah terhubung ke akun twitter. Dan satu pemberitahuan dari akun twitter ku datang. Kau, dengan comment di retweet twitter ku berhasil mengubah dunia ku dalam satu kedipan mata.
Ya, itu adalah asal muasal bagaimana kita bisa saling kenal. Dari hal konyol yang tak pernah kita bayangkan bisa menumbuhkan rasa luar biasa dalam hati. Kau, yang tak pernah satu kali pun aku impikan, yang tak pernah satu kali pun aku bayangkan, hadir dalam hidupku. Tapi bila ku ingat, kau adalah satu kali doa yang pernah ku ucapkan saat hati ku teramat remuk. Tuhan Maha Baik, tak ingin umatnya bersedih, maka diwujudkan apa yang tlah terangkai dalam doa.
Obrolan-obrolan singkat via maya. Tak pernah tatap muka, tak pernah berjabat tangan, dan tak tahu bagaimana ritme suara, tapi berhasil menjadi benih cinta yang kemudian kita pupuk dengan rasa penasaran dan kita rawat dengan kesabaran hingga akhirnya berbunga sebuah pertemuan. Pertemuan pertama, kedua, ketiga, hingga keberapa kalinya aku lupa, telah berhasil menghasilkan buah dari apa yang tlah kita tanam. Hati kita satu, berbuah manis menjadi perjalanan cinta yang tak pernah kita duga :)
Sekarang.
Adica, terimakasih atas segala waktu mu yang banyak telah kau isi dengan kehadiranku. Rasa sayang mu yang tak pernah habis dan semoga akan terus bertambah untuk diriku. Terimakasih atas kelapangan dada yang telah menerima segala sifat buruk ku.
Mari kita lanjutkan menanam benih-benih cinta yang semakin banyak kita miliki ini. Jangan lupa untuk menyiraminya dengan kasih sayang dan merawatnya dengan kesabaran. Kelak buah manis akan kita petik. Jadilah rumah, sebagai tempat menetap bukan hanya sekedar singgah.
Aku sayang kamu.
Alafu :*
Komentar
Posting Komentar