Putih & Abu-Abu
Yogyakarta, 20 Januari 2013
Sebut saja kamu, angin..
Kita dipertemukan dalam masa akhir dimana pakaian itu akan kita lepas. Pakaian yang hanya mengandung dua warna itu tanpa terasa telah kita gunakan hampir 3 tahun. Ya, putih dan abu-abu yang banyak orang berkata itulah masa dimana indah dari segala yang indah. Apa kabar mu sekarang? Bagaimana rasanya tinggal dikota orang? Aku dengar kamu telah bersamanya. Akhirnya kini kamu menemukan satu yang pasti.
Dalam surat ini izinkan aku untuk menjelaskan sedikit apa yang dulu sempat banyak terlewatkan. Aku tak pernah meminta mu untuk membaca surat ini, tapi bilasanya ternyata kamu membaca, semoga segala yang tak jelas dimasa lalu bisa aku perjelas saat ini. Kita bertemu dalam akhir putih abu-abu. Padahal saat putih biru kita pun berada dalam satu bangunan yang sama, tapi sayang saat itu semesta belum berkeinginan untuk memperkenalkan aku dan kamu. Tak masalah, yang terpenting adalah aku sempat untuk beberapa lama menikmati hangat kasih sayang darimu.
Dihadapan sahabat ku, itu kali pertamanya kamu membawa ku pulang. Di sepanjang jalan tak banyak kita berbicara, hanya sesekali saling pandang dan lempar senyuman. Aku malu, kau pun malu dan kita berbalut bisu karena malu. Semenjak itu hati kita menyatu, meski saat itu kau tau, hatiku sudah ada yang memiliki. Lelaki disana yang tak lagi menggunakan putih abu-abu, adalah pemilik hatiku. Aku pun tau bahwasanya aku telah terikat, tapi aku tak memungkiri bahwa dengan mu juga lah aku bisa merasa nyaman. Dan saat itu ku putuskan untuk berbagi hati.
Tapi aku tak bisa terus seperti ini, berbohong dengan lelaki tanpa putih abu-abu kalau ternyata aku telah menggandakan cinta. Aku bimbang tak mengerti mana yang harus aku pilih, dia yang diluar sana yang sudah tanpa putih abu-abu, atau kah kau yang masih berpakaian sama seperti aku. Tapi malam itu, ku runcingkan tekad ku untuk memilih. Ya ku pilih kau, lelaki yang dekat dan masih putih abu-abu.
Ku pikir semuanya telah selesai, tapi ternyata aku salah. Kalau saja ada penjara cinta, mungkin aku sudah dihukum seumur hidup didalam sana. Kebersamaan ku yang telah lebih dari 300 hari bersama lelaki tanpa putih abu-abu itu tidak begitu saja usai. Ketergantungan yang sudah melekat erat didiriku sulit bagiku untuk sepenuhnya pergi dari dia. Akibatnya? Aku tak sepenuh hati bahkan hanya dengan setengah jiwa aku mencintaimu. Maaf, maaf bukan karena aku tak bisa sepenuh hati padamu, tapi maaf karena seharusnya aku tak pernah memilihmu.
Dan kenangan 2 tahun silam itu kini telah menjadi barisan ingatan yang indah dalam kepalaku. Ingatan-ingatan itu tersusun rapih bak film-film dvd dikotaknya. Jadi bila suatu saat aku ingin memutarnya kembali, akan sangat dengan mudah bagiku untuk menanyangkannya lagi. Semoga dengan surat ini, kesalahan yang pernah aku buat, tidak akan pernah kau lakukan kepada perempuan yang kau cintai. Karena setelah aku, kamu, dan dia, jangan pernah ada orang lain yang merasakan sakit seperti apa yang telah aku, kamu, dan dia rasakan.
Aku
Yang dulu pernah kau jadikan Putri di Singgasana hatimu.
kata-katamu bagus kak,
BalasHapuskak mungkin kaka gak tahu kalo aku ini pembaca setia blogmu satu hari kamu gak posting aku tahu kak karena setiap hari aku buka blogmu.
Terimakasih sebelumnya ya :)
HapusUdah baca tulisan ku yang lainnya? Heheheh
Udah kak ;-)
BalasHapusMenurutku paling bagus "aku bagian dari kamu.."
Karena aku mengenalmu dari twitter @shitlicious kak
oalah terimakasih ya :) semoga kesananya tulisan ku makin bagus kyak bang Alit heheheh
Hapusamin mudah mudahan
Hapus