Dua-Karta

Jakarta, 29 Januari 2013


Untuk (Ja&Jogja)-Karta ku,




Jakarta. Ini adalah kota kelahiran ku. 7 Oktober 19 tahun yang lalu disalah satu rumah sakit bersalin di Jakarta bagian timur aku dilahirkan. Disini aku tumbuh besar, kaki ku menapak untuk pertama kali ya di kota ini. Bangun pagi hingga kembali tidur saat malam, ku lalui hari dikota ini. Banyak kenangan, banyak cerita yang ku buat di kota ini.

Jakarta. Jalinan kasih sertamerta tiada akhir. Keluarga, sahabat, teman, kekasih, semua ku punya dikota ini. Tapi tidak dengan kekasih. Karena mungkin kekasih bukan tasbih yang bisa selalu dibawa kemana-mana dan selalu dimiliki. Mungkin belum jodoh, atau memang tak berjodoh? Entahlah, yang jelas perpisahan mengajarkan ku akan sebuah kepercayaan, percaya kelak akan bertemu dengan seseorang yang lebih baik dari yang sudah dipisahkan.

Jakarta. Punya ciri khas? Ya tentu. Kota mana yang bisa disuguhi kemacaten dari matahari terbit hingga matahari terbenam? Ya ku kira cuma Jakarta, ya karena aku tinggal dikota ini. Banjir? Ya hampir setiap hujan turun dengan deras dan dalam kurun waktu yang lama daratan pasti akan sama dengan lautan. Air dimana-mana. Tapi adakah yang berniat meninggalkan Jakarta? Tak ada. Pesona Jakarta untuk menjadikanmu kaya terlalu kuat dan sulit untuk kau tolak. Tapi itu hanya sekedar angan mungkin impian bila tidak benar-benar kau lakukan dengan kesungguhan.

Jogajakarta. Mengenal nama Yogyakarta? Ah sama saja. Mereka satu jiwa, satu raga beda kosakata. Ini kota rantau ku. Hampir 2 tahun aku diangkat anak oleh kota ini. Awal aku berada dikota ini aku mencaci diriku sendiri, karena apa? Aku merasa tak pantas berada dikota yang mana keindahan selalu diberikan. Pernah pagi yang indah mu disambut oleh Merapi? Aku pernah, bahkan sering. Merapi nampak elok bagai lukisan nyata Jogja yang menggantung dilangitnya. Indah? Sangat, bahkan menderitanya dirimu bila kau mengedipkan matamu karena tak sepenuhnya kau nikmati indahnya.

Jogjakarta. Aku nyaman, aku aman, aku tenang berada disini. Tapi aku kalut saat aku sadar keluarga ku tak banyak disini. Aku disini untuk mencari ilmu, juga menumpuk rindu, karena tak bisa sering bertemu keluargaku. Tapi aku punya sesuatu yang baru dikota ini. Wanita yang sejak september 2011 lalu ku panggil ibu. Ia lah alasan mengapa aku harus bertahan dikota ini. Ia lah yang harus aku jaga sebab suaminya yang ku panggil papah berada jauh dikota kelahiran ku.

Jadi bisakah aku meninggalkan Jakarta sepenuhnya dan mengabdikan hidupku seutuhnya di Jogjakarta? Tidak! Sebab di tanah Jakarta terkubur teman ku saat masih dikandungan mamah dan ditanah Jakarta pula lah tempat istirahat terakhir mamah ku disana. Iya, aku tak bisa meninggalkan mamahku meski jiwanya sudah berbeda dunia, tapi kenangannya? Masih lekat ditiap sudut rumahku disana, di Jakarta.

Atau bisakah aku pergi dari Jogjakarta dan kembali ke Jakarta tanpa pernah sedikitpun berniat kembali ke Jogja? Tidak! Sebab di Jogja ada wanita yang harus aku jaga, wanita yang masih satu dunia dengan ku, dan yang selalu aku bisa rasa hangat peluknya.

Jadi dua-Karta ku itu berarti besar untuk hidupku. Baik untuk masa laluku, masa sekarang, maupun masa depanku. Karena di dua-Karta itu suka dan duka ku berkembang biak, berkembang biak hingga menjadi cerita dan kenangan yang tersusun rapih didalam jiwa. Akupun punya dua wanita hebat di dua-Karta ku. Jakarta ku ada kenangan bersama mamahku, dan di Jogjakarta ada impian yang akan ku wujudkan bersama ibuku.

Akan ku beri tau apa beda dua-Kartaku. Beda nya hanya satu, di Jakarta ada mantan dan di Jogjakarta ada gebetan. Heheheh.


"Di Jakarta ataupun di Jogjakarta aku berada, diriku tetap dibawah langit yang sama"



Dari aku,
Yang biasa mengeluarkan tigapuluhlimaribu rupiah
untuk berpindah kota di dua-Kartaku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia