Jadi, siapa yang menang?

          Saat waktunya aku, langit memang tak selalu bersinar. Itu semua bergantung kepada Rajaku, apakah ia ingin bekerja dengan menyinari langitku atau hanya ingin bermalas-malasan berselimut awan, ya itu semua kembali lagi dengan keputusannya. Pernah suatu hari yang ntah itu kapan, langitku sangat cerah, memaksa mereka semua untuk segera membuka mata. Aku tau, tak seorangpun menyukai aku, siapa sih yang suka istirahat panjangnya bersama malam diganggu, aku pun tak suka, apalagi kamu. Pernah juga suatu hari yang lagi lagi ntah itu kapan, langit ku pernah sangat mendung, Rajaku nampaknya sangat malas untuk menampakan diri, jadilah hari itu menjadi mendung kelabu. Aku pikir hari itu akan banyak yang menyukai ku, tapi ternyata aku salah, tak seorang pun juga yang menyukai ku. Bilangnya, mereka susah, harus bekerja, bersekolah dan beraktivitas lainnya dibawah langit mendung. Aku yang disalahkan karena membuat mereka susah. Memang dasarnya mereka saja yang tak patut bersyukur atas apa yang sudah ada.

         Aku pernah menyerah, mengutuk alam yang telah menjadikan aku sebagai perusak bagi mereka yang tengah asyik merangkai mimpi. Aku benci, bukan kepada mereka, tapi kepada aku. Aku benci mendengar mereka yang selalu mengeluh saat datangnya aku, bukankah seharusnya mereka menghadapi aku dengan senyuman? Toh akan ada siang, sore, senja dan bahkan malam lagi yang nantinya akan mereka temui. Seharusnya mereka bersyukur, berterimakasih pada pecipta-Nya, karena masih mengizinkan mata mereka terbuka, jantung mereka masih bisa memompa darah, dan oksigen yang masih disediakan semesta. Ya lagi lagi memang dasarnya meraka yang jarang sekali bersyukur. Lebih banyak mengeluh atas apa yang sudah disediakan bagi mereka.

          Sudah ku bilang, kalau mereka ikhlas menjalankan harinya, mereka akan lagi dan lagi dan akan selalu kembali bertemu malam. Aku pernah mendengar keluhan mereka saat siang, bilangnya siang selalu menyajikan Rajaku yang terik, membuat mereka berkeringat sepanjang hari. Dan ketika Rajaku kembali tak bersinar, mereka pun juga mengeluh, karena siang mereka tak bisa mereka jadikan waktu untuk menjemur pakaian. Bagaimana pakaian akan kering bila siangnya tak ada terik. Aku pun juga pernah mendengar keluhnya mereka saat sore menjelang. Bilangnya, sore itu padat, dijalan berhimpitan kendaraan yang sama-sama ingin kembali ke rumah tempat mereka tinggal. Padahal hanya butuh kesabaran saat itu, tapi tidak untuk mereka, mereka selalu ingin menjadi yang paling utama dan pertama. Tak ada yang mau mengalah tapi pada akhirnya banyak juga yang kalah.

          Tapi sekalipun aku tak pernah mendengar mereka mengeluh pada Senja. Selalu pujian yang mengalir untuk Senja. Langitnya yang elok, awan yang berjalan beriringan bak berdansa diluasnya langit, angin semilir yang menentramkan, dan tak sedikitpun diantara mereka yang bahkan berusaha untuk mencari senja dengan pergi ke pantai. Aku heran, mengapa senja begitu diistimewakan? Padahal durasinya tak ada hitungan jam, setengah jam pun mungkin tak sampai. Sedangkan aku? Durasi ku berjam-jam, tapi jarang sekali pujian dilayangkan kepadaku.

          "Ya jelas lah Pagi, mana ada yang memuji mu! Kau itu penggangu! Mereka yang sedang asyik hidup dalam kebahagiaan yang mereka rangkai sendiri, tapi kau bangunkan dengan kokok ayammu! Belum lagi sinar si Raja yang tiba-tiba masuk lewat celah jendela. Itu menggangu! Sudah pantas tak ada yang suka kepadamu!" jelas Senja.

          "Oiya? Lalu, kau pikir apakah kau jauh lebih baik dari aku? Apa yang bisa dibanggakan dari mu? Langit mu yang indah? Awan mu yang mesra? Atau sinar Raja yang perlahan menghilang? Itukah?" jawab ku.

          "Oh iya jelas dong. Langit ku indah, bukan biru. Disana bertabur warna yang menjadikan langitku semakin megah. Kau lihat sendiri kan bagaimana eloknya langitku? Awan ku pun berjalan beriringan, mereka bergantian saling menyembunyikan sinar Raja dan menghantarkannya kembali ke peraduan. Lalu, adakah yang tak bisa dibanggakan dari aku? HA HA HA, aku indah Pagi..." tawa licik Senja.

          "Tapi pernahkan sejenak kau berpikir? Bahwasanya bila mendung datang padamu, tak seorang pun ingat bahwa kau ada. TAK SEORANGPUN SENJA! Yang mereka tau sesudah sore akan langsung malam, karna langit sudah gelap. Jadi, masihkah kau mau menyombongkan diri?"

          "Hm, ya itu benar. Tapi........Tapi kau, iya kau harus ingat, bahwa aku lah yang paling dekat dengan Malam, sesudah aku langsung Malam. Tak ada pemisah antara kami. Sedangkan kau dengan Malam? Kau harus melewati siang, sore, dan bahkan kau harus melewati aku bila kau ingin bertemu dengan malam. Jadi, bagaimana Malam bisa mencintaimu Pagi, selain kau tak indah, jarak diantara kau dan Malam pun terlampau jauh. HA HA HA" Senja tak ingin kalah.

          Aku diam. Senja benar. Aku tak sekalipun pernah dicintai oleh Malam. Jarak aku dan Malam terlalu jauh. Aku harus melewati siang, sore, dan bahkan aku harus bertemu muka dengan Senja terlebih dahulu bila aku ingin menemui Malam. Senja benar, selain tak indah, aku gagal mendapatkan Malam. Jadi aku bisa apa? Senja menang, dan akan selalu menang.

******************************

          Malam, waktu dimana paling ditunggu oleh mereka. Yang dimana saat Malam datang, mereka bisa beristirahat, melewatkan waktu dengan orang-orang yang mereka sayang, hingga lelah benar-benar datang dan mewajibkan mereka untuk menjalani hidup dialam yang lain. Alam mimpi, yang dimana disana bahagia bisa diciptakan sendiri. Aku pemuja Malam, karena aku kagum akan sosooknya. Malam tak pernah sepenuhnya gelap, karena disana ada bulan dan bintang. Senantiasa berpijar untuk hadirkan Malam yang sempurna. Ia tak pernah angkuh, bahkan bersedia bilasanya langitnya akan menangis, ia rela, karena baginya tangisan langit saat waktunya adalah bagian terindah untuk menemani istirahat mereka. Ah aku jatuh cinta kepada Malam, yang senantiasa berada tanpa adanya kegusaran layaknya aku maupun siang.

         Tapi Senja benar, mana mungkin malam jatuh cinta padaku, aku kan berada jauh darinya. Selain itu aku tak indah seperti Senja. Ah semesta, andai ada sebuah permintaan, jadikanlah aku Senja yang selalu dipuja, bukan jadi Pagi yang selalu dibenci. Ah semesta, dekatkan lah aku dengan Malam, agar Malam bisa mencintaiku layaknya ia mencintai Senja.

          "Pagi, dengarkan aku. Dengarkan aku karena aku hanya akan mengatakan ini sekali dan tak kan pernah ku ulangi lagi. Karena bagiku, pengulangan itu hanya percuma. Buat apa diulang bila sekalipun sudah cukup. Kau Pagi, dan akan selalu menjadi Pagi. Jarakmu dengan ku memang jauh, kau harus melewati siang, sore dan bahkan si cantik Senja untuk menemuiku. Tapi pernahkah kau berpikir, jarak ku dengan kau itu dekat Pagi. Dekat bahkan sangat dekat dan tak ada pemisah antara kita. Memangnya ada sebuah nama untuk menamai waktu sesudah malam dan sebelum pagi? Tak ada kan? Oleh sebabnya kita dekat, dan tak ada pemisahnya" jelas Malam.

          Aku diam, karena tak tau apa yang harus aku katakan. Malam benar, jarak ku dengannya memang jauh, tapi jaraknya dengan ku? Bahkan tak ada waktu yang memisahkan kita. Mereka pun tau sesudah Malam pasti Pagi. Sedangkan Senja, sebelum malam, adapun mereka yang menyebutnya dengan petang. Jadi sesungguhnya pemisah itu ada diantara waktu sesudah Senja dan sebelum Malam.

          "Tapi Malam, Pagi itu tak indah, tak ada satupun dari mereka yang menyukai Pagi. Sedangkan aku? Banyak cinta bilasanya waktu ku tiba. Aku lebih indah dari Pagi, Malam. Kau jangan memujinya seperti itu. Aku cemburu" marah Senja.

         "Dengarkan aku Senja, dengarkan aku baik-baik karena aku tak akan mengulanginya. Aku tak memuji Pagi, karena memang pujian itu memang teruntuk kau, tapi aku hanya menyebutkan fakta. Kau memang indah Senja, Pagi pun kalah indah dengan mu. Memang tak ada satupun dari mereka yang menyukai Pagi. Tapi lihatlah, walaupun mereka mengeluhkan Pagi, mereka tetap menjalani harinya, mereka merasakan tiap detik waktunya berjalan saat Pagi. Tapi saat Senja? Adakah semua diantara mereka perduli? Tak ada masalah bila tak ada Senja, tapi bila tak ada Pagi? Akankah kehidupan masih ada? Pagi tak indah, tapi dia hebat. Karena selalu ada selamat untuk Pagi dan tak pernah ada selamat untuk mu, Senja" jawab Malam.

          Aku diam, karena lagi dan lagi tak tau apa yang harus aku katakan. Semua yang dikatakan Malam sudah cukup jelas untuk menjadikan aku kuat dan bertahan sebagai Pagi. Sebab aku selalu mendengar setiap hari, kepada siapapun mereka berkata "Selamat Pagi!", dan tak pernah sekalipun aku mendengar "Selamat Senja!". Ya, aku hebat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia