Apa kabar KA?
Yogyakarta, 21 Januari 2013
KA!
Apa kabar? Lama tak bersua. Teknologi canggih pun kini tak dapat menjalin komunikasi kita. Kita hanya saling tau kabar melalui orang-orang disekitar kita yang pastinya dulu menginginkan kita untuk bersama. Tapi apa daya? Pantai itu cukup untuk jadi saksi akhir romansa cinta diantara kita.
Ku dengar saat ini dirimu sudah menetapkan hati untuk bersama dia? Benar begitu? Aku senang mendengar kabar itu. Karena aku pun sendiri berpikir bahwasanya dia lebih segalanya daripada aku. Dia dewasa, ya sama seperti mu. Tidak seperti aku, yang mungkin mulut ku terlalu banyak tertawa bila dibandingkan mulutnya yang selalu melontarkan kalimat-kalimat bijaksana.
Coba sejenak kau kembalikan ingatan mu, ingatan dimana kita membuat suatu cerita singkat dipantai itu. Sudah ingat? Bila kau susah mengingatknya, aku akan bantu menghipnotis ingatanmu dengan beberapa rangkaian kalimatku. Kau hanya cukup membaca, lalu olah kalimat-kalimat yang aku tulis dalam surat ini di otakmu. Dan percaya padaku, semesta akan menyetujui otak mu untuk memutar kembali cerita singkat yang pernah kita buat di pantai itu.
Pantai itu, dulu. Sore itu, sebelum senja, kita sudah tiba. Keempat kaki ku dan kamu telah berpijak diatas tanah yang sama. Bukan tanah, melainkan pasir pantai yang apabila kita berjalan diatasnya, kaki kita akan meninggalkan jejak disana. Jejak yang akan hilang bila terhempas ombak, tapi tidak dengan jejak kata-kata manis dari mulutmu yang dulu selalu menapaki ruas demi ruas jalan yang ada dipikiranku. Angin itu, semilir yang membawa harum tubuh mu untuk bisa aku rasakan. Harum yang sampai kini pun aku masih mengingatnya. Jadi candu, dan kini jadi rindu karna sudah lama aku tak merasakan harumnya. Suara ombak, menjadi lantunan lagu yang mengiringi tawa kita, bercanda dibawah naungan keromantisan matahari dan langit yang diberi nama dengan senja.
Sedikit pun tak pernah kau membiarkan jari-jari ku merasakan kekosongan. Sebab disana selalu kau isi dengan jari-jarimu. Sampai kita lupa bahwa senja sudah berganti dengan malam. Dunia seakan hanya dihuni kita berdua. Yang lain? Hanya boneka yang kebetulan banyak dijual di jalan. Ya malam itu, sepanjang jalan pantai itu kau mengantarku kembali pulang. Bukan hanya aku yang kau pulangkan, tapi juga hatiku. Mungkin sudah habis masa tinggal ku dihatimu.
Tapi terimakasih untuk pasir pantai, angin, ombak, dan senja itu. Semua itu tak kan pernah ku benci bilasanya aku kembali ke tempat itu tanpamu. Yang hanya aku benci adalah diriku, karena berada dalam ketidakmampuan untuk melupakan, semua itu.
Salam rindu,
Pantai itu.
Komentar
Posting Komentar