Harusnya Aku Tak Pernah Ada
Yogyakarta, 17 Januari 2013
Kepada kamu, yang mungkin tak terbalas....
Maaf, adalah kata yang akan mengawali surat ini. Maaf karena aku mungkin tak dapat membalas. Bukan surat mu yang tak ku balas, karena sekali pun tak pernah kamu menuliskan apa-apa untuk ku. Tapi maaf untuk segala rasa yang tak mungkin bisa aku balas. Karena kamu tau, tak ada yang harus aku balas.
Aku tak pernah sekalipun meminta kepadamu untuk kamu memberikan rasa lebih dari sekedar teman. Aku tak pernah sekalipun untuk memohon padamu agar kamu bisa mencintaiku lebih dari seorang teman dan tak pernah sekalipun aku bersujud dikakimu agar hati mu bisa terisi oleh aku. Aku tak pernah melakukan itu semua, jadi apakah ada salah ku bila ternyata aku tak bisa membalas itu semua?
Bukan mau ku agar kau cintai ku lebih dari sekedar teman, bukan inginku bilasanya hati mu terisi oleh ku dan bukan maksudku untuk tak membalas, tapi itu semua berjalan sesuai takdir. Takdir yang membuat mu bisa mencintai ku lebih dari sekedar teman dan takdir pula yang membuat ku tak bisa membalasanya. Kamu temanku dan selamanya akan berakhir sebagai teman tidak akan pernah melebihi batas itu.
Kamu tak salah, aku pun juga. Tapi kamu dan aku hanya berada dalam waktu yang sama. Waktu mu mecintai ku lebih dari sekedar teman, sedangkan waktu ku hanya berbatas perasaan yang hanya menganggap mu teman. Hebatnya kamu, tak ada paksaan, kamu terima apapun keputusan yang aku berikan, sekalipun itu keputusan tak berbalas.
Maaf ini adalah maaf terakhir dalam paragraf surat ini. Entah seharusnya aku ucapkan berapa ribu maaf agar kamu mau memaafkan segala hal yang tak bisa aku balas. Ya memang, harusnya aku tak pernah ada. Tak pernah ada dalam sekali waktupun dalam hidupmu.
Dari aku,
Perempuan yang seharusnya tak pernah ada
Kamu tak salah, aku pun juga. Tapi kamu dan aku hanya berada dalam waktu yang sama. Waktu mu mecintai ku lebih dari sekedar teman, sedangkan waktu ku hanya berbatas perasaan yang hanya menganggap mu teman. Hebatnya kamu, tak ada paksaan, kamu terima apapun keputusan yang aku berikan, sekalipun itu keputusan tak berbalas.
Maaf ini adalah maaf terakhir dalam paragraf surat ini. Entah seharusnya aku ucapkan berapa ribu maaf agar kamu mau memaafkan segala hal yang tak bisa aku balas. Ya memang, harusnya aku tak pernah ada. Tak pernah ada dalam sekali waktupun dalam hidupmu.
Dari aku,
Perempuan yang seharusnya tak pernah ada
duhh kren bangettt rarasss :D
BalasHapusserius? ah makasih ya :)))
Hapus