Penipu
9 Februari 2017
Hapus-tulis-hapus-tulis-hapus-tulis.
Itu saja kerjaku. Karena entahlah mengapa rasanya terlalu sulit untuk memilih kata terbaik dalam surat ini. Ingin menyebutkan rindu sebagai kata pertama, tapi aku ragu. Aku takut bila hanya aku yang rindu, kamu tidak. Memang, Dilan bilang; "Rindu itu berat, biar aku saja, kamu tak akan kuat." Tapi kata ku, kamu juga harus rindu, biar sama-sama kita tanggung yang berat ini.
Kamu rindu?
Seberapa banyak?
Bila ku katakan seberapa banyak rindu ku, tak kan cukup seribu atau dua ribu episode untuk menceritakannya. Jadi aku malas, lebih baik tak usah ku katakan. Biarlah kau tak pernah tahu, dengan begitu kau akan menganggap ku baik-baik saja.
Tak apa. Aku pandai berpura-pura. Sebab pertemuan kita hanya sebatas teks dan suara. Ku bisa menipu dengan titik dua kurung buka. Lagi-lagi dengan begitu kau akan menggangap ku baik-baik saja.
Kadang aku merasa, aku baik-baik saja tapi tidak baik-baik saja. Kadang aku terlalu lelah untuk berpura-pura. Maka kini bila ku katakan aku sedang tidak baik apa kau akan percaya? Apa kau akan mengkhawatirkan aku? Apa dengan begitu aku mendapatkan waktu mu? Ku pikir tidak, karena bagimu aku akan selalu baik-baik saja.
Bila memang aku selalu baik-baik saja, semoga kamu di sana akan selalu merasa bahwa aku membutuhkan mu dengan segera.
-selalu
Hapus-tulis-hapus-tulis-hapus-tulis.
Itu saja kerjaku. Karena entahlah mengapa rasanya terlalu sulit untuk memilih kata terbaik dalam surat ini. Ingin menyebutkan rindu sebagai kata pertama, tapi aku ragu. Aku takut bila hanya aku yang rindu, kamu tidak. Memang, Dilan bilang; "Rindu itu berat, biar aku saja, kamu tak akan kuat." Tapi kata ku, kamu juga harus rindu, biar sama-sama kita tanggung yang berat ini.
Kamu rindu?
Seberapa banyak?
Bila ku katakan seberapa banyak rindu ku, tak kan cukup seribu atau dua ribu episode untuk menceritakannya. Jadi aku malas, lebih baik tak usah ku katakan. Biarlah kau tak pernah tahu, dengan begitu kau akan menganggap ku baik-baik saja.
Tak apa. Aku pandai berpura-pura. Sebab pertemuan kita hanya sebatas teks dan suara. Ku bisa menipu dengan titik dua kurung buka. Lagi-lagi dengan begitu kau akan menggangap ku baik-baik saja.
Kadang aku merasa, aku baik-baik saja tapi tidak baik-baik saja. Kadang aku terlalu lelah untuk berpura-pura. Maka kini bila ku katakan aku sedang tidak baik apa kau akan percaya? Apa kau akan mengkhawatirkan aku? Apa dengan begitu aku mendapatkan waktu mu? Ku pikir tidak, karena bagimu aku akan selalu baik-baik saja.
Bila memang aku selalu baik-baik saja, semoga kamu di sana akan selalu merasa bahwa aku membutuhkan mu dengan segera.
-selalu
Komentar
Posting Komentar