Paragraf Terakhir
Sampai sudah pada paragraf terakhir yang ku susun kata demi kata tanpa air mata. Ntah karena ku tlah mati rasa atau memang tak ada lagi hal yang perlu tuk ku tangisi.
Kamu menyerah.
Mungkin benar kamu sudah terlalu lelah.
Mungkin benar tak ada lagi cinta.
Mungkin benar inilah yang seharusnya terjadi pada kita.
Tak ada lagi kita, kini kembali hanya menjadi aku dan kamu.
Satu demi satu mimpi yang mengandung kamu telah ku gugurkan.
Meski menyakitkan, ku lakukan dengan teramat perlahan agar hati tak banyak menerima luka. Satu demi satu doa yang ku layangkan atas nama mu, ku biarkan tetap mengawang. Setidaknya telah ku panjatkan segala yang baik untuk mu. Anggap saja itu hadiah karena telah memberikan ku hari-hari indah.
Atas semua yang telah ku perjuangkan, tak pernah sedikit pun ada rasa sesal. Kamu harus ingat dengan baik bahwa kamu lah yang memutuskan untuk beranjak, kamu lah yang memutuskan untuk pergi, kamu lah yang memutuskan untuk berlari. Dan keputusan ku lah menghilangkan segala tentang mu dari hidup baru yang kini akan ku mulai jalani. Bila nanti ada keinginan mu untuk datang kembali, tolong bawakan aku jawaban tentang pertanyaan; "Mengapa kamu menyerah dengan begitu mudah?"
Tak apa, aku sudah terbiasa bertemu dengan perpisahan. Ini belum seberapa, sebab sebelumnya telah ku terima perpisahan yang hampir menenggelamkan hidup ku dalam lautan air mata. Bagi ku, perpisahan paling menyakitkan adalah kematian.
Selamat menjalani kehidupan baru, tanpa ada lagi puisi-puisi cinta dari ku. Selamat menjalani hidup baru, tanpa ada lagi kata 'alafu' yang ku ucapkan tuk sekedar memanjakan hari mu. Selamat menjalani hidup baru, semoga keputusan mu untuk berpisah dengan ku adalah keputusan paling membahagiakan dalam hidup mu.
Selesai sudah cerita cinta tentang kamu.
Ini paragraf terakhir berisikan nama mu.
Dica.
Kamu menyerah.
Mungkin benar kamu sudah terlalu lelah.
Mungkin benar tak ada lagi cinta.
Mungkin benar inilah yang seharusnya terjadi pada kita.
Tak ada lagi kita, kini kembali hanya menjadi aku dan kamu.
Satu demi satu mimpi yang mengandung kamu telah ku gugurkan.
Meski menyakitkan, ku lakukan dengan teramat perlahan agar hati tak banyak menerima luka. Satu demi satu doa yang ku layangkan atas nama mu, ku biarkan tetap mengawang. Setidaknya telah ku panjatkan segala yang baik untuk mu. Anggap saja itu hadiah karena telah memberikan ku hari-hari indah.
Atas semua yang telah ku perjuangkan, tak pernah sedikit pun ada rasa sesal. Kamu harus ingat dengan baik bahwa kamu lah yang memutuskan untuk beranjak, kamu lah yang memutuskan untuk pergi, kamu lah yang memutuskan untuk berlari. Dan keputusan ku lah menghilangkan segala tentang mu dari hidup baru yang kini akan ku mulai jalani. Bila nanti ada keinginan mu untuk datang kembali, tolong bawakan aku jawaban tentang pertanyaan; "Mengapa kamu menyerah dengan begitu mudah?"
Tak apa, aku sudah terbiasa bertemu dengan perpisahan. Ini belum seberapa, sebab sebelumnya telah ku terima perpisahan yang hampir menenggelamkan hidup ku dalam lautan air mata. Bagi ku, perpisahan paling menyakitkan adalah kematian.
Selamat menjalani kehidupan baru, tanpa ada lagi puisi-puisi cinta dari ku. Selamat menjalani hidup baru, tanpa ada lagi kata 'alafu' yang ku ucapkan tuk sekedar memanjakan hari mu. Selamat menjalani hidup baru, semoga keputusan mu untuk berpisah dengan ku adalah keputusan paling membahagiakan dalam hidup mu.
Selesai sudah cerita cinta tentang kamu.
Ini paragraf terakhir berisikan nama mu.
Dica.
:(( persis kisahku. smoga secepatnya aku bisa kembali jd aku yg sbelum ketemu dia hhhh. sakit ya, tp ttp bersyukur. semangat raras
BalasHapusi know you can
Hapus