Menjadi Dewasa Itu Sulit

Halo! Apa kabar?

Im back! Glad to be back here again. Lebih tepatnya aku kembali karena sudah sangat butuh lagi tempat untuk berbagi cerita. Lama tak bersua, karena seperti yang kalian tau, rasanya berat untuk datang lagi ke sini. Ke tempat di mana dulu inspirasi ku untuk menulis datang mengalir begitu saja bila hanya mengingat satu nama; seseorang yang tak lagi namanya ku sebut.

Am i okay? Bin ich? Not at all.

Hari ini, Kamis, 16 Desember 2021, setahun sejak aku kembali menjadi anak kos. Keputusan terhebat dan terkeran yang ku ambil di 2020. Siapa sangka? Bahwa yang ku butuhkan secara sederhana untuk punya kamar sendiri, akhirnya aku wujudkan. Kalau teringat kala itu, aku mengemasi barang-barangku yang tak seberapa banyak, dibantu oleh teman ku untuk memindahkan barang-barang itu dari rumah sampai ke tempat kos, kepergian yang tidak banyak menerima dukungan. Mereka pikir aku sombong, mereka pikir aku sok, mereka pikir aku tak bisa menghidupi diriku sendiri, tapi apa yang mereka saat ini lihat adalah aku yang berdiri di atas kedua kakiku, tak lagi bersandar pada mereka.

Padahal mudah, yang ku hanya inginkan adalah sebuah kamar. Untuk ku sendiri. Di mana saat tangis tak bisa lagi ditahan, yang mendengar hanya dinding putih tak bernyawa. Di mana saat menangis sampai terisak, tak ada lagi yang bertanya; kamu kenapa? Karena kadang aku tak butuh ditanya. Aku hanya butuh didengar, tapi mereka terlalu enggan mendengar suara tangis ku. Bagi mereka tak perlu, aku sudah dewasa, air mata tak ada guna.

Berbicara tentang dewasa, mengapa satu kata itu menjadi sangat rumit bila dijalani? Mengapa tak bisa saja aku terus menjadi anak-anak yang di mana sedikit saja beban pikirannya. Yang di mana isi pikiran hanya seputar besok akan main di mana dan dengan siapa. Harusnya hidup sedemikian mudah di setiap harinya, tapi ternyata kenyataan berjalan tak mau selalu sama.

Hari ini, sudah lama bahkan lupa kapan terakhir aku bisa lepas tertawa, akhirnya aku tertawa, lepas, lagi. Hangat rasanya hati bisa berbicara banyak hal dengan manusia-manusia yang ku kenal. Bahkan kami menertawakan banyak hal yang tidak terlalu penting sampai yang sebenarnya tidak juga lucu. Tapi ntahlah seperti semua hal menjadi wajib sekali untuk ditertawakan hari ini. 

Ketika kembali lagi ke kediaman ku, di mana isinya hanya aku di dalam ruang dengan 4 dinding putih mengelilinginya, aku kembali lagi merasakan itu; kesepian. Bahkan aku menangis saat menyaksikan tontonan lucu yang biasanya mampu membuatku tertawa terbahak-bahak. Terlalu bising suara yang didengar telinga ku, namun diterjemahkan kepala ku menjadi sunyi yang menusuk hati. 

Sebenarnya, aku tak suka sendiri. Aku tak suka sepi. Aku tak suka tak memiliki seseorang yang bisa ku ajak berbicara. Terlalu bosan untuk mendengar suara isak tangis ku sendiri. 

Menjadi dewasa itu rumit, apakah akan ada waktunya untuk menjadi mudah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia