Mengapa Takut?

Pertanyaan yang ku ajukan kepada diriku sendiri, aku mendapatkan jawabannya dari diriku sendiri, tapi aku tak merasa puas.

Sebenarnya, rindu sekali rasanya ingin memiliki seseorang, lagi, di mana sedari pagi hingga pagi lagi ada alasan untuk tersenyum padahal hanya melihat namanya di layar handphone. Tak apa walau tak ada temu muka, asal suaranya pun bisa sering didengar. Tak apa saat pagi hingga sore sibuk bekerja, asal malamnya bisa bertukar cerita untuk jadi bahan tertawa bersama. Ingin sekali, tapi takut.

Saat ini, diriku berada di masa mulai membutuhkan mu, tapi kamunya sedang nampak menjauh. Apa hanya perasaan ku saja? 

Saat ini, aku sedang candu menerima kabar darimu, tapi kamunya seakan nampak mulai tak peduli. Apa hanya perasaan ku saja?

Saat ini, berbagai hal ku lakukan untuk mendapatkan perhatian mu, tapi kamunya acuh tak acuh, seakan aku tak ada. Apa hanya perasaan ku saja?

Gawat sekali ini, aku sudah mulai membawa perasaan.

Padahal baru ku katakan kemarin untuk semua tak terburu-buru, tapi aku di hari ini ingin sekali semuanya serba cepat. Kamu datang, kita bertemu, menghabiskan satu hari dengan tawa yang sama, bertukar banyak cerita tentang kehidupan masing-masing yang kita punya, kemudian saling bilang cinta. Secepat dan semudah itu inginku, tapi aku takut.


Pelan-pelan sajalah kalau begitu. Bagaimana kalau dimulai dengan bertemu online?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia