Penasaran
Pernah ga punya rasa ingin tahu sebegitu besarnya pada seseorang?
Naksir, mereka bilang.
Ntahlah kenapa bisa, padahal hanya bertemu maya.
Suka.
Naksir.
Kepo.
Kepo.
Kepo.
Punya pacar tidak ya?
Sudah menikah belum ya?
Oh masih sendiri. Baguslah. Semakin jauh langkah dapat melaju.
Tapi sebagai pribadi yang mudah sekali menjadi ilfeel dengan seseorang, biasanya aku teramat hati-hati dalam melangkah.
Tidak terburu-buru tapi setiap hari pasti maju.
Bagiku, untuk bisa naksir duluan itu seru, ketimbang harus dikejar-kejar oleh lelaki terobsesi tetapi hanya berakhir untuk jadi koleksi. Hiyeks.
Kadang sebal sendiri, kadang kesal sendiri, kadang merasa aneh sendiri, mengapa bisa sebegitu penasarannya dengan seseorang yang bahkan nampaknya tak punya ketertarikan dengan orang yang sedang mengintainya?
Apa masih pantas di usia ini menjadi pemuja rahasia?
Oh tentu saja tidak, oleh sebab itu belum seratus persen hari ku berisi dia.
Kadang bosan juga dan merasa semua tak ada artinya tiap kali ia mematikan topik obrolan yang sedang kami lakukan.
Mungkin dia tidak tertarik, mungkin baginya aku tak sepenting itu.
Hati-hati.
Takut sekali ada kata yang salah ku ketikan, kemudian ku kirimkan dan terlanjur dibaca olehnya. Bagaimana kalau dia ilfeel?
Bagaimana kalau ternyata bukan seperti aku tipe perempuan yang ia idamkan?
Bagimana kalau bukan aku yang sesuai dengan doanya yang terucap?
Ah terlalu jauh pikirku, padahal nomor handphone nya pun aku belum punya.
Bila ternyata kau membaca tulisan ku ini, bolehkan kau sebutkan angka berapa saja yang ada dalam nomormu?
Kemudian kau hitung sampai tiga, kata hai yang kau terima berasal dari nomor ku.
Tapi aku takut, aku takut tidak seseru itu untuk bisa menjadi teman mu berbincang dalam berjam-jam. Aku takut, aku tidak semenyenangkan itu, aku hanya akan menjadi abu-abu saat kau ingin mewarnai hari mu.
Jangan buat aku takut, tolong yakinkan aku, bahwa yang sedang terjadi ini benar.
Dimulai dengan sesekali mulai duluan.
Please tolonglah, tidak enak menjadi penasaran.
Naksir, mereka bilang.
Ntahlah kenapa bisa, padahal hanya bertemu maya.
Suka.
Naksir.
Kepo.
Kepo.
Kepo.
Punya pacar tidak ya?
Sudah menikah belum ya?
Oh masih sendiri. Baguslah. Semakin jauh langkah dapat melaju.
Tapi sebagai pribadi yang mudah sekali menjadi ilfeel dengan seseorang, biasanya aku teramat hati-hati dalam melangkah.
Tidak terburu-buru tapi setiap hari pasti maju.
Bagiku, untuk bisa naksir duluan itu seru, ketimbang harus dikejar-kejar oleh lelaki terobsesi tetapi hanya berakhir untuk jadi koleksi. Hiyeks.
Kadang sebal sendiri, kadang kesal sendiri, kadang merasa aneh sendiri, mengapa bisa sebegitu penasarannya dengan seseorang yang bahkan nampaknya tak punya ketertarikan dengan orang yang sedang mengintainya?
Apa masih pantas di usia ini menjadi pemuja rahasia?
Oh tentu saja tidak, oleh sebab itu belum seratus persen hari ku berisi dia.
Kadang bosan juga dan merasa semua tak ada artinya tiap kali ia mematikan topik obrolan yang sedang kami lakukan.
Mungkin dia tidak tertarik, mungkin baginya aku tak sepenting itu.
Hati-hati.
Takut sekali ada kata yang salah ku ketikan, kemudian ku kirimkan dan terlanjur dibaca olehnya. Bagaimana kalau dia ilfeel?
Bagaimana kalau ternyata bukan seperti aku tipe perempuan yang ia idamkan?
Bagimana kalau bukan aku yang sesuai dengan doanya yang terucap?
Ah terlalu jauh pikirku, padahal nomor handphone nya pun aku belum punya.
Bila ternyata kau membaca tulisan ku ini, bolehkan kau sebutkan angka berapa saja yang ada dalam nomormu?
Kemudian kau hitung sampai tiga, kata hai yang kau terima berasal dari nomor ku.
Tapi aku takut, aku takut tidak seseru itu untuk bisa menjadi teman mu berbincang dalam berjam-jam. Aku takut, aku tidak semenyenangkan itu, aku hanya akan menjadi abu-abu saat kau ingin mewarnai hari mu.
Jangan buat aku takut, tolong yakinkan aku, bahwa yang sedang terjadi ini benar.
Dimulai dengan sesekali mulai duluan.
Please tolonglah, tidak enak menjadi penasaran.
Seperti itu? Begitulah, secret admirer. Bisanya cuma lihatin, nungguin balasan comment atau DM. Tapi, itu seru.. kalau di pondok biasanya dilewatin pesan berupa kertas yang diselipkan dalam kitab atau laci bangku. Entah berbalas atau hanya amblas.
BalasHapus