Cerita Tentang Jarak: Tak Pernah Bosan Rindu
Pagi ku dimulai, dengan menggambar bentuk hati pada kalender untuk tanggal hari ini....
Masih ingat, supermarket di depan jalan dekat kos ku? Tempat di mana kita menghabiskan waktu untuk berbelanja ala kadarnya.
Ala Eropa, kita membeli roti dengan selainya, dimakan sembari tertawa berbagi cerita.
Ala Arab-kearaban, membeli kurma di bulan puasa, yang akan kita makan saat waktu berbuka tiba, dilanjut menghadap Sang Empunya Bumi dengan bersujud bersama.
Ala Anak Kos di akhir bulan, ya apalagi kalau bukan mie instan yang kita beli. Memasaknya dengan mencampur dengan telur. Dapur kos ku adalah saksi tak bersuara, di mana senangnya hati ku yang telah lelah memasak, kamu mencucikan piringnya. Seperti itulah cinta, tak pernah memberatkan satu dan yang lainnya.
Ah, itu adalah nol koma sekian persen dari ingatan ku tentang kamu. Masih terlalu banyak dan terlalu malas untuk menjabarkannya dalam tulisan. Sesekali aku mengulas kembali dengan mu dalam bait-bait pesan yang ku kirimkan.
Pacar jauh ku, hal yang tak pernah bosan ku lakukan selain makan, tidur, dan berselancar di dunia maya adalah merindukan mu.
Tak pernah habis rindu itu, meski telah dibayar dengan sebuah gandeng tangan berjalan bersama di sepanjang pinggir jalan Malioboro.
Tak pernah habis rindu itu, meski telah dibayar dengan sebuah es krim coklat favorit ku.
Tak pernah habis rindu itu, meski telah dibayar dengan berkeliling kota dengan motor mu, di mana rintik hujan menjadi senandung nyanyian perjalanan dan aku bebas memeluk mu dari belakang.
Tak pernah habis, bahkan ku pikir sulit untuk dihabiskan.
Sebagai lelaki, mungkin menyebalkan bila sang perempuan tak henti-hentinya melontarkan kata rindu.
Kamu bilang sedang menonton televisi, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang mencuci pakaian, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang beli makan, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang olahraga, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang membaca, ku kirimkan kata rindu.
Kamu bilang ingin berbincang dengan Tuhan, aku titip pesan sampaikan pada Tuhan untuk sebuah pertemuan.
Sebab rindu bagaikan oksigen, kamu tak lihat bentuknya, tapi kamu rasakan bahwa itu ada.
Aku tak pernah bosan rindu,
sesekali hanya bosan mendengar mu merayu.
....
Selamat tanggal 2, pacar jauh!
Peluk cium dilayangkan ke angkasa.
Masih ingat, supermarket di depan jalan dekat kos ku? Tempat di mana kita menghabiskan waktu untuk berbelanja ala kadarnya.
Ala Eropa, kita membeli roti dengan selainya, dimakan sembari tertawa berbagi cerita.
Ala Arab-kearaban, membeli kurma di bulan puasa, yang akan kita makan saat waktu berbuka tiba, dilanjut menghadap Sang Empunya Bumi dengan bersujud bersama.
Ala Anak Kos di akhir bulan, ya apalagi kalau bukan mie instan yang kita beli. Memasaknya dengan mencampur dengan telur. Dapur kos ku adalah saksi tak bersuara, di mana senangnya hati ku yang telah lelah memasak, kamu mencucikan piringnya. Seperti itulah cinta, tak pernah memberatkan satu dan yang lainnya.
Ah, itu adalah nol koma sekian persen dari ingatan ku tentang kamu. Masih terlalu banyak dan terlalu malas untuk menjabarkannya dalam tulisan. Sesekali aku mengulas kembali dengan mu dalam bait-bait pesan yang ku kirimkan.
Pacar jauh ku, hal yang tak pernah bosan ku lakukan selain makan, tidur, dan berselancar di dunia maya adalah merindukan mu.
Tak pernah habis rindu itu, meski telah dibayar dengan sebuah gandeng tangan berjalan bersama di sepanjang pinggir jalan Malioboro.
Tak pernah habis rindu itu, meski telah dibayar dengan sebuah es krim coklat favorit ku.
Tak pernah habis rindu itu, meski telah dibayar dengan berkeliling kota dengan motor mu, di mana rintik hujan menjadi senandung nyanyian perjalanan dan aku bebas memeluk mu dari belakang.
Tak pernah habis, bahkan ku pikir sulit untuk dihabiskan.
Sebagai lelaki, mungkin menyebalkan bila sang perempuan tak henti-hentinya melontarkan kata rindu.
Kamu bilang sedang menonton televisi, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang mencuci pakaian, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang beli makan, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang olahraga, aku bilang rindu.
Kamu bilang sedang membaca, ku kirimkan kata rindu.
Kamu bilang ingin berbincang dengan Tuhan, aku titip pesan sampaikan pada Tuhan untuk sebuah pertemuan.
Sebab rindu bagaikan oksigen, kamu tak lihat bentuknya, tapi kamu rasakan bahwa itu ada.
Aku tak pernah bosan rindu,
sesekali hanya bosan mendengar mu merayu.
....
Selamat tanggal 2, pacar jauh!
Peluk cium dilayangkan ke angkasa.
Komentar
Posting Komentar