Cerita Tentang Jarak : Meyakini Yang Benar

Sebagai perempuan yang sulit sekali menyembunyikan perasaan, terkadang hal tersebut menjadi bumerang untuk diri saya sendiri. Bila saya marah, saya akan tunjukan, bila saya senang, saya akan tersenyum bahkan tertawa tanpa batasan, pun bila saya bersedih, saya tak sungkan untuk menjatuhkan airmata sebanyak-banyaknya.

Terlebih perihal cemburu. Saya akui itu dan pacar jauh saya pun mengakui akan kebenaran hal itu. Saya tak suka, teramat tak senang bila melihat kekasih saya terlalu berdekatan dengan perempuan lain. Bukan, bukan saya takut ia akan berpaling, saya hanya tak ingin, ia bahagia bukan karena saya.

"Ara ga pernah berantem kali ya sama pacarnya. Mesra terus..."

Bila itu yang ada di benak kalian, berarti saya telah berhasil menebarkan benih cinta kebahagiaan kepada siapapun yang mengenal saya dan pacar jauh saya.
Pada kenyataannya?
Kami hanya manusia biasa, dua kepala dengan isi yang berbeda.
Dengan dua hati, yang terkadang saling berlawanan dalam hal rasa.
Kadang saya suka asin, dia suka manis.
Saya suka asam, dia suka tawar.
Tapi satu yang kami tahu, bahwa kami sama-sama saling suka, hingga bisa hidup bersama meski berjauhan.

Tak satu atau dua kali kami bertengkar, tapi tak juga sehari tiga kali.
Layaknya musim yang berganti, hujan menuju kemarau, kemarau kembali lagi ke hujan, begitu juga kami. Bila sedang sangat cinta dengannya, saya tak sungkan untuk berkali-kali menuliskan kata "sayang" dalam pesan yang saya kirimkan. Dan bila sedang marah, jangankan untuk memanggilnya sayang, bahkan rasanya tak sudi untuk menyebut namanya.
Bukan, bukan karena sudah tak lagi sayang, malah justru itu cara kami untuk belajar lebih menyayangi satu dengan yang lainnya.

Benci. Sering kali saya benci dengan sikapnya, sering kali saya muak bila ia mengulang kesalahan yang sama, tapi pada akhirnya benci yang benar-benar saya pahami adalah benar-benar cinta. Hingga saya tak pernah takut untuk ia tinggalkan, hanya takut bila saya mengecewakan. Mengecewakannya.

Menyedihkan. Di saat kami sedang ditengahi oleh jarak, di saat kami diserbu oleh ribuan emosi yang menggebu, kami tak bisa berpeluk. Kami tak bisa saling tatap dengan perlahan-lahan meneteskan air mata bersama. Saya sendiri, ia sendiri. Sendiri dengan sepi, dengan ribuan pikiran berantakan tak tahu bagaimana cara merapihkan. Bermodal dengan percaya, dengan berhalaman-halaman pesan yang saling kami kirimkan adalah upaya untuk mempertahankan apa yang telah kami mulai.


........
Sebab bagi saya, pisah jauh tapi tetap memilikinya adalah tenaga, kekuatan yang meyakinkan bahwa masa depan bersamanya adalah benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia