Cerita Tentang Jarak
"Kamu asalnya mana?"
"Samarinda... Kamu?"
"Jakarta..."
Maka, bersahabat dengan jarak adalah hal yang di kemudian hari akan kita lakukan, menebarkan benih cinta agar tumbuh di tiap jalan sebagai jembatan yang kita bangun untuk sebuah pertemuan.
Tanpa ada sedikit rasa khawatir pun ragu aku memberanikan diri untuk jatuh cinta kepada lelaki yang kampung halamannya hanya pernah ku jumpai di dunia maya. Aku tak pernah tahu, bagaimana panasnya matahari di rumah mu, bagaimana derasnya hujan yang jatuh di tanah pekarangan rumah mu, dan bagaimana rasanya semilir angin yang menari-narikan dedaunan di pohon-pohon yang tumbuh di depan rumah mu. Yang ku tahu hanya, dari rumah itu lahirlah sesosok manusia yang berhasil meyakinkan ku bahwa hatinya siap dihuni dan ditinggali oleh diriku.
Jauh. Tak mudah untuk digapai genggam tangan mu, terlalu sulit untuk mendapat hangat dari dekap tubuh mu.
Dekat. Meski kabar mu ku dapat setiap saat, dan suara mu dengan mudah terdengar meski pemiliknya tak nampak di depan mata.
Beruntunglah kita, hidup di jaman yang kata orang serba mudah. Oh benarkah? Bila memang kenyataannya mudah, detik ini seharusnya kita telah berada di atas ranjang yang sama, berselimut, sembari menyaksikan film favorit kita.
"Sabar...." katamu, saat aku merengek untuk sebuah pertemuan. Kata mu aku tak boleh lupa untuk makan, aku pun tak pernah melewatkan waktu makan ku. Sebab rindu itu butuh tenaga, semakin banyak tenagaku, semakin kuat pula aku menopang rindu yang semakin hari semakin menggebu.
"Maaf...." katamu, saat sebuah kesalahan kamu lakukan, pun bila aku yang melakukan, kamu juga yang mengutarakan. Sekali, dua kali, amarah datang yang menjadi bumbu rasa pedas dalam hubungan yang kita jalani adalah hal yang tak bisa kita hindari. Kita hanya cukup untuk menikmati, sebab cinta tak melulu manis, akan ada banyak rasa yang belum semua kita cicipi.
Terimakasih, untuk selalu mengalah, untuk tak pernah lupa bahwa yang berkata buruk-buruk adalah bukan aku.
Aku adalah yang mengucap kata cinta dan rindu.
Dan aku adalah yang setiap kali berjumpa dalam bait-bait pesan yang dikirimkan, menginginkan peluk mu sampai tergila-gila.
..
Mari kita jalani apa yang telah kita mulai, kita buat ribuan cerita yang kelak akan kita dongengkan kepada mereka, bahwa mereka ada dari buah kesabaran yang tumbuh di tengah-tengah jarak.
"Samarinda... Kamu?"
"Jakarta..."
Maka, bersahabat dengan jarak adalah hal yang di kemudian hari akan kita lakukan, menebarkan benih cinta agar tumbuh di tiap jalan sebagai jembatan yang kita bangun untuk sebuah pertemuan.
Tanpa ada sedikit rasa khawatir pun ragu aku memberanikan diri untuk jatuh cinta kepada lelaki yang kampung halamannya hanya pernah ku jumpai di dunia maya. Aku tak pernah tahu, bagaimana panasnya matahari di rumah mu, bagaimana derasnya hujan yang jatuh di tanah pekarangan rumah mu, dan bagaimana rasanya semilir angin yang menari-narikan dedaunan di pohon-pohon yang tumbuh di depan rumah mu. Yang ku tahu hanya, dari rumah itu lahirlah sesosok manusia yang berhasil meyakinkan ku bahwa hatinya siap dihuni dan ditinggali oleh diriku.
Jauh. Tak mudah untuk digapai genggam tangan mu, terlalu sulit untuk mendapat hangat dari dekap tubuh mu.
Dekat. Meski kabar mu ku dapat setiap saat, dan suara mu dengan mudah terdengar meski pemiliknya tak nampak di depan mata.
Beruntunglah kita, hidup di jaman yang kata orang serba mudah. Oh benarkah? Bila memang kenyataannya mudah, detik ini seharusnya kita telah berada di atas ranjang yang sama, berselimut, sembari menyaksikan film favorit kita.
"Sabar...." katamu, saat aku merengek untuk sebuah pertemuan. Kata mu aku tak boleh lupa untuk makan, aku pun tak pernah melewatkan waktu makan ku. Sebab rindu itu butuh tenaga, semakin banyak tenagaku, semakin kuat pula aku menopang rindu yang semakin hari semakin menggebu.
"Maaf...." katamu, saat sebuah kesalahan kamu lakukan, pun bila aku yang melakukan, kamu juga yang mengutarakan. Sekali, dua kali, amarah datang yang menjadi bumbu rasa pedas dalam hubungan yang kita jalani adalah hal yang tak bisa kita hindari. Kita hanya cukup untuk menikmati, sebab cinta tak melulu manis, akan ada banyak rasa yang belum semua kita cicipi.
Terimakasih, untuk selalu mengalah, untuk tak pernah lupa bahwa yang berkata buruk-buruk adalah bukan aku.
Aku adalah yang mengucap kata cinta dan rindu.
Dan aku adalah yang setiap kali berjumpa dalam bait-bait pesan yang dikirimkan, menginginkan peluk mu sampai tergila-gila.
..
Mari kita jalani apa yang telah kita mulai, kita buat ribuan cerita yang kelak akan kita dongengkan kepada mereka, bahwa mereka ada dari buah kesabaran yang tumbuh di tengah-tengah jarak.
Semoga segera dipersatukan dalam ikatan pernikahan ya kalian <3 :') :*
BalasHapusAamiin. Hahahaha makasih ka Ivaaaa :D
Hapus