Bukan Surat Yang Terakhir, Tapi Kamu
Yogyakarta, 29 Februari 2016
Ini bukan surat cinta terakhir, karena masih ada kamu di tulisan-tulisan berikutnya.
Sebab ku tetapkan yang menjadi terakhir, adalah kamu. Terakhir dalam pencarian ku, terakhir dalam hidup ku.
Tak peduli, sejauh apapun perjalanan yang akan ku tempuh bila ingin bertemu dengan mu.
Tak masalah, sesibuk apapun waktu ku, akan ku selipkan menit-menit manis hanya untuk saling bertukar cerita dengan mu.
Tak khawatir, dengan perempuan mana kamu berdekatan, asal tetap tangan ku yang akan kamu genggam.
Asal kamu tak bohong, asal kamu tak sulit untuk berkata jujur, akan selalu ku sediakan hati sebagai tempat mu untuk selalu kembali.
Mencintai bukan hanya perkara dua pasang manusia yang saling menitipkan hati satu dengan yang lainnya. Mencintai adalah perkara setia dan percaya. Setia, kemanapun kaki mu melangkah, seberapa banyak mata mu melihat wanita-wanita berparas indah, akan tetap selalu ada aku dalam bayang mata yang kamu punya. Percaya, satu teramat penting, tak bisa seenaknya kamu mainkan, tak bisa sesukanya kamu anggap tak memiliki arti, sebab sekali kamu rusak, kamu tak akan mudah lagi mendapatkannya.
Aku bersedia, untuk bahagia karena mu pun menangis karena mu. Aku sudi untuk kamu buat terluka. Asal apa yang kamu lakukan adalah hal yang tidak kamu sengaja. Asal apa yang kamu perbuat adalah hal yang bukan berasal dari hati, melainkan dari emosi yang hanya sekedar mampir. Karena perjalanan cinta tak melulu indah, aku siap menjalaninya, tak ingin menyudahi apa yang telah berani ku mulai.
Dalam peluk mu, ku titipkan setia dan rasa percaya. Kan ku buang jauh-jauh segala prahara dan curiga. Ku beranikan diri untuk mejadikan mu yang terakhir. Tak pernah diri ini lupa untuk menyelipkan nama yang kamu punya dalam tiap ku meramu doa.
Memiliki kamu, seutuhnya dan selamanya.
Terimakasih tlah bertahan meski jauh.
Komentar
Posting Komentar