Tiba-Tiba Saja Terbayang
Untuk mu yang sedang ku bayangkan.
Aku tak tahu, bagaimana rasanya.
Aku tak tahu, bagaimana bisa kau berada di sana.
Aku tak mengerti asal mula kau bisa di sana.
Yang ku tahu dan ku mengerti adalah kau akan berada di dalam tubuhku.
Hidup dari aku, bertahan hidup karena ku, dan kelak akan menjadi penerus hidup ku.
Bagaimana ya rasanya ada keberadaan mu?
Bagaimana ya rasanya ada detak jatung mu?
Bagaimana ya rasanya ada sesuatu yang ku tahu ia hidup sama seperti aku?
Bagaimana? Tak tahu. Yang ada dibayangan ku masih samar-samar.
Aku akan menjadi guru mu.
Bukan karena hampir 4 tahun aku menempuh kuliah pendidikan, tapi karena kamu adalah tanggung jawab ku. Pertama-tama dan utama adalah aku akan mengajari mu untuk berucap syukur. Meski ku tahu awal mula kau belum bisa berbicara, meksi ku tahu awal mula kau tak mengerti mengapa bisa ada di dunia, tapi percayalah, bersama dengan detak jantung di tubuhku dan ditubuhmu, aku akan mengajarkan mu bagaimana caranya berterimakasih dengan Tuhan atas hadiah sebuah kehidupan.
Kemudian, aku akan mengenalkan mu kepadanya. Seseorang yang berperan atas keberadaan mu di dunia. Seseorang yang akan melindungi mu hingga tetes darah akhir hidupnya. Seseorang yang akan selalu menggendong mu saat kamu lelah, seseorang yang akan mencium keningmu sebelum kau terpejam, seseorang yang akan mengantarkan mu kemana pun kaki mu ingin, seseorang yang akan berdiri di depan mu bila ternyata di luaran sana banyak kau temui orang jahat, seseorang yang akan memberikan restunya saat kau dewasa dan tiba saatnya hidup dengan cinta pilihan mu. Ayah mu, yang tak akan pernah tergantikan di sepanjang hidupmu.
Setelah itu, aku akan mengajarkan mu tersenyum. Mengangkat kedua bibir mu secara imbang. Tapi boleh juga bila yang sebelah lebih tinggi. Senyum gengsi. Pasti sangat lucu melihatmu seperti itu.
Lalu, apalagi? Ntahlah. Semua masih samar-samar. Pun hanya terlintas saja di pikiran ku. Mungkin masih sedikit agak lama untuk benar-benar kedatangan kamu dalam hidup ku. Biarkan lah dulu aku menyelesaikan pendidikan ku, kemudian mengumpulkan banyak harta, agar bisa sebaik-baiknya menyambut kedatangan mu.
Untuk mu, yang kelak menjadi anak ku.
yang ku bayangkan menjadi seorang anak perempuan
amat cantik, manis, dan baik hatinya.
Aku tak tahu, bagaimana rasanya.
Aku tak tahu, bagaimana bisa kau berada di sana.
Aku tak mengerti asal mula kau bisa di sana.
Yang ku tahu dan ku mengerti adalah kau akan berada di dalam tubuhku.
Hidup dari aku, bertahan hidup karena ku, dan kelak akan menjadi penerus hidup ku.
Bagaimana ya rasanya ada keberadaan mu?
Bagaimana ya rasanya ada detak jatung mu?
Bagaimana ya rasanya ada sesuatu yang ku tahu ia hidup sama seperti aku?
Bagaimana? Tak tahu. Yang ada dibayangan ku masih samar-samar.
Aku akan menjadi guru mu.
Bukan karena hampir 4 tahun aku menempuh kuliah pendidikan, tapi karena kamu adalah tanggung jawab ku. Pertama-tama dan utama adalah aku akan mengajari mu untuk berucap syukur. Meski ku tahu awal mula kau belum bisa berbicara, meksi ku tahu awal mula kau tak mengerti mengapa bisa ada di dunia, tapi percayalah, bersama dengan detak jantung di tubuhku dan ditubuhmu, aku akan mengajarkan mu bagaimana caranya berterimakasih dengan Tuhan atas hadiah sebuah kehidupan.
Kemudian, aku akan mengenalkan mu kepadanya. Seseorang yang berperan atas keberadaan mu di dunia. Seseorang yang akan melindungi mu hingga tetes darah akhir hidupnya. Seseorang yang akan selalu menggendong mu saat kamu lelah, seseorang yang akan mencium keningmu sebelum kau terpejam, seseorang yang akan mengantarkan mu kemana pun kaki mu ingin, seseorang yang akan berdiri di depan mu bila ternyata di luaran sana banyak kau temui orang jahat, seseorang yang akan memberikan restunya saat kau dewasa dan tiba saatnya hidup dengan cinta pilihan mu. Ayah mu, yang tak akan pernah tergantikan di sepanjang hidupmu.
Setelah itu, aku akan mengajarkan mu tersenyum. Mengangkat kedua bibir mu secara imbang. Tapi boleh juga bila yang sebelah lebih tinggi. Senyum gengsi. Pasti sangat lucu melihatmu seperti itu.
Lalu, apalagi? Ntahlah. Semua masih samar-samar. Pun hanya terlintas saja di pikiran ku. Mungkin masih sedikit agak lama untuk benar-benar kedatangan kamu dalam hidup ku. Biarkan lah dulu aku menyelesaikan pendidikan ku, kemudian mengumpulkan banyak harta, agar bisa sebaik-baiknya menyambut kedatangan mu.
Untuk mu, yang kelak menjadi anak ku.
yang ku bayangkan menjadi seorang anak perempuan
amat cantik, manis, dan baik hatinya.
Komentar
Posting Komentar