kemBALI.

Hi, Bali!



17 Januari 2015 pukul 05.32 WITA kedua kaki ini menapak untuk pertama kali dalam 21 tahun hidup di sebuah pulau yang tak asing lagi, pulau Dewata. Puji dan syukur tak terhenti terucap dari bibir yang mengagung-agungkan nama Sang Maha Pencipta atas segala keindahan yang ada pada pagi itu. Ini adalah kali pertama perjalanan ku ke ujung timur pulau Jawa, kali pertama raga ku berada dalam sebuah kapal yang menghantarkan ku ke sebrang pulau, sebelah barat dari pulau Dewata, pelabuhan Gilimanuk, ku abadikan kapal yang telah menghantarkan ku.

Jatuh cinta pertama ku pada Bali, pada laut yang menyapa dengan lembut, pada angin yang bersuara di sela-sela dedaunan yang tumbuh pada pohon di jalan, pada udara yang hangat masuk ke dalam paru-paru, dan pada kaki yang tak pernah ku percaya bahwa telah menapak di sebuah pulau yang berbeda. Akhirnya aku berada di luar ranah nyaman ku, berada di luar waktu bagian barat yang menemani aktivitasku, berada di daerah yang pertama kali ku membuka mata, langsung jatuh cinta. Oh, Bali.

17 Januari 2015
- Singgah ku pertama di pulau ini adalah di Tabanan. Kota yang yg ku singgahi hanya sekedar untuk sarapan dan membersihkan diri setelah menempuh perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Tak sempat untuk mengabadikan sebuah gambar, sebab diri ini masih belum bisa menyatu dengan segala keadaan baru di pulau Dewata, masih remang. Sulit untuk membedakan adanya aku masih bermimpi atau telah kembali ke dunia nyata.

-Pemberhentian selanjutnya adalah tempat indah yang biasa ku nikmati keindahannya hanya dari layar kaca, Tanah Lot.


Tuhan, seandainya ini mimpi, aku tak ingin bangun. tak ingin sedikit pun membuka mata karena takut segala keindahan ini akan hilang. Bagaimana mungkin Kau begitu sempurna menata tiap pohon, rerumputan, laut, ombak, langit, dan awan yang tampak sangat rapih membentuk sebuah keindahan seperti ini? Ah aku lupa, Kaulah Maha Segalanya, bisa menciptakan apa saja yang baik pun buruk di mata manusia.

-Birunya langit Tanah Lot, diberikan warna yang sedikit kelam oleh awan hitam. Tapi tak mengurangi keelokan danau yang tenang seperti ini.


Bedugul, terimakasih atas makan siang yang menyenangkan dan menyajikan pemandangan yang menenangkan dengan rintik hujan sebagai hiasan.

Atas segala pemandangan yang menyegarkan mata dan makanan yang mengeyangkan perut serta lelah yang tak bisa ditahan lagi akan keberadaannya, tubuh ini butuh kasur. Sebagai tempat untuk merebah, dan mulai merajut mimpi atas apa yang akan dijadikan nyata di keesokan harinya.

18 Januari 2015
Pagi sekali, kita siap berkeliling Bali lagi.
- Garuda Wisnu Kencana, tempat yang sedari pintu gerbangnya pun telah membuat banyak tanda tanya di dalam pikiran "Seperti apa dalamnya?" Untuk seseorang yang baru pertama kali berpindah pulau seperti saya, hal penasaran seperti ini sangat menyenangkan.


Oh benarkah ini GWK? Tempat yang diangung-agungkan banyak pendatang dengan foto patungnya? Sebentar, di mana foto patung Garudanya? Ada, di sisi lainnya. Sisi ini adalah satu dari sekian banyak sisi menarik di GWK. Mengapa saya pilih yang ini sebagai sisi menarik? Sebab perhatikanlah, dari sini kau akan benar-benar melihat indahnya GWK, dari langit yang membiru dengan hiasan awan, dan tanah yang lembut penuh hijaunya rumput. Lembut? Ya kau harus benar-benar merasakannya sendiri kaki mu menapak di atasnya. Selamat pagi, Bali!

- Dan kemudian, Tanjung Benoa. Tempat yang sangat terkenal dengan permainan airnya. Menikmati permainan di atas lautan berteman ombak? Siapa takut. Bahkan aku rela meniduri sang ombak bila dengan begitu aku bisa puas menikmati sisi lain dari indahnya pulau Dewata. Maka aku memutuskan untuk sedikit berpindah ke sisi lain dari Bali yang sedikit mengeluarkan pundi-pundi dari dompetku. Teluk Penyu, yang jauh lebih tua dari ku, ada di sana.

 Haruskah menyebutnya dengan panggilan "Kakek?" Usianya 54tahun lebih tua dari ku.

- Pantai Pandawa. Pantai yang baru saja dijadikan tempat wisata untuk umum adalah pantai yang memiliki ombak tidak sampai ke bibir pantainya. Laut yang menyajikan berbagai macam warna air di dalamnya, dari mulai air yang tampak bening, hingga biru ketuaan yang menandakan dalamnya lautan.


- Seafood pinggir laut. Jimbaran, adalah tempat berikutnya yang kita singgahi untuk sekedar memenuhi segala hak dari penghuni-penghuni yang ada di dalam perut.
Setelah perut dikenyangkan oleh masakan, mata diberi kesempatan untuk menyaksikan matahari pulang ke dalam pelukan lautan.

 butuh kesabaran untuk dapat letak matahari hampir di tengah lautan


19 Januari 2015
- Bali Classic Center


Tamu adalah Raja. Begitulah kami diperlakukan di tempat ini. Dari tari-tarian sambutan hingga hiburan saat makan siang kami dapatkan. Di sini adalah tempat kami mengenal kebudayaan masyarakat Bali secara lebih dekat. Salah satunya adalah menonton pentas seni wayang yang dimainkan oleh "Bli" yang ada di Bali. Sebentar...


Salah satu "Bli" ini menarik perhatian saya. Bukan karna wajahnya yang tampan. mungkin bisa dikatakan tidak, tapi ntahlah. Pandangan pertama padanya, ia membiarkan mata saya terus melekat padanya. Untung hanya mata, bukan hati.

***
Sebenarnya bukan hanya itu tempat di Bali yang saya kunjungi. Ada tempat berbelanja untuk membeli buah tangan asli dari Bali pastinya. Seperti Jogger, Krisna, dan pasar Sukowati yang saya kunjungi. Tapi tak ada hal yang menarik yang bisa diceritakan di sana. Hanya kesedihan, karena mengalir sangat deras pundi-pundi yang keluar dari dompet saya.

Lalu ada juga beberapa tempat yang dikunjungi teman-teman saya tanpa saya. Seperti Uluwatu dan Tampak Siring. Kedua tempat ini merupakan pura, tempat beribadah umat Hindu. Tapi apa daya, keadaan saya saat sedang tidak sucilah yang melarang saya untuk masuk ke sana. Saya dengar cerita dari teman, tempat itu adalah baik. Sebaik-baiknya tempat adalah tempat di mana ia khusyuk menyembah Sang Pencipta.
...dan yang paling baik lainnya adalah Puja Mandala. Di sana terdapat segala bentuk tempat untuk bertemu Tuhan dari masing-masing keyakinan yang dianut oleh tiap manusia. Ah, indahnya perbedaan.

Hi, Bali!
Terimakasih tlah memberikan pengalaman pertama dalam hidup saya untuk menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang lainnya. Terimakasih tlah berbaik hati menerima saya dengan memberikan hangat matahari dan tenangnya hujan. Terimakasih tlah mengizinkan kamera handphone saya untuk mengabadikan segala keindahan yang kau punya. Terimakasih telah sangat ramah dan bersedia memperkenalkan orang-orang yang berada di sana kepada saya. Bertambahlah kini teman saya.

Dan kepada mu, Bali, aku akan kemBALI. 
Janji, jika Tuhan menghendaki.
Sebab masih banyak indahmu, yang belum sempat aku cicipi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia