Awal.

Pfiuh-pfiuh. Bersihkan dulu debu yang bersarang merajut menjadi tempat paling nyaman untuk seekor binatang kecil, laba-laba.

Lama sudah rasanya tak banyak kata yang ku rangkai untuk jadi sebuah cerita pun sekedar menjadi puisi. Terlalu sibuk anggota tubuhku bahkan jari-jari ku untuk memenuhi segala aktivitas ku.

Ku hanturkan terimakasih berkali-kali kepada Sang Maha Pencipta atas rasa sayang yang diberikan-Nya kepadaku dan kemudian ku lanjutkan kepada dia, lelaki yang hingga kini masih tetap bersamaku, masih ada tangannya dalam genggamanku. 300 hari lebih telah banyak cerita yang ada antara aku dan dia. Mungkin kali ini Tuhan setuju, atau tebakan ku benar, bahwa ia adalah jodoh yang telah dituliskan namanya saat roh ku masuk ke dalam rahim ibu.

Semoga.

***
Banyak hal yang sedang ku jalani kini. Salah satu dari sekian banyaknya adalah ku coba menafkahi raga ku sendiri. Dengan mengandalkan coba-coba ku, aku mulai memasuki dunia baru. Kerja. Meski belum penuh dari matahari terbit hingga terbenam, tapi inilah warna baru yang sedang ku goreskan dalam hidupku. Setidaknya aku mencoba mandiri tanpa harus bermanja-manja dengan ayahku lagi.

Lain halnya yang sedang ku coba adalah akhir dari masa pendidikan. Demi untuk mencapai sebuah pangkat di belakang nama ku kelak, ini pula warna yang sedang ku goreskan di dalam hidupku.

Oh Tuhan, rasanya aku sedang asyik mewarnai hidupku dengan pensil warna yang tlah Kau berikan ini. Sesaat aku lelah mewarnai, aku simak kembali warna-warna yang telah ku goreskan di hidupku sebelumnya. Dan selalu ku sadari, bahwa semua warna yang Kau berikan itu indah, sekalipun itu abu ataupun hitam.

***
Hari ke-12 dari lembar baru yang sedang ku warnai.. Semoga akan selalu ada kamu sebagai penentu warna mana yang harus selalu aku gunakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia