Januari: Bertemu dan Berpisah


            Januari dua tahun silam adalah bulan dimana semesta mempertemukan kita. Lewat suara yang aku punya, aku berkenalan dengan mu. Aku ingat, saat itu aku membaca sebuah pengumuman yang disana tertulis bahwa band mu membutuhkan seorang vokalis. Aku tau, mungkin suara ku tidak semerdu penyanyi-penyanyi di layar kaca, tapi aku memberanikan diri untuk mencoba ikut audisi vokalis itu. Aku ingat dan sangat-sangat ingat dimana kala itu kamu memuji suara ku, lewat senyum yang kamu sunggingkan, kamu berhasil menarik simpatiku.
            “Suara mu bagus. Sering nyanyi dimana?” katamu.
            “Makasih. Aku belum pernah nyanyi dimana-mana. Selama ini hanya nyanyi di kamar mandi aja. Ya hanya untuk menghibur diri ku sendiri” jawabku.
            “Hahahaha. Kamu lucu. Baiklah, berhubung suara mu enak untuk didengar dan kamu lucu, kamu kami terima di band ini”
            Mungkin itu sudah digariskan oleh semesta. Banyak waktu yang kita lewati bersama. Lagu demi lagu ku nyanyikan, nada demi nada kamu mainkan lewat gitarmu, kita menyatu bagaikan ombak yang selalu bergulung diluasnya lautan. Tak terpisahkan dan akan selalu ada satu untuk yang lainnya. Sampai akhirnya kamu jatuh cinta denga suaraku dan aku jatuh cinta dengan untaian nada yang kamu mainkan. Hubungan kitapun bukan hanya sekedar lagu dan nada yang kita bawakan bersama, tapi ini sudah menjadi candu bahkan rindu bila tak saling bertemu.
            “Lun, janji sama aku, sampai tangan ku cacat, dan jemari ku hancur hingga aku tak bisa petikan nada indah lagi dari gitar ini untukmu, kamu akan selalu ada untukku” pintanya.
            “Ki, aku janji. Sampai suara ku tak terdengar lagi dan bahkan pita suara ku pun putus, aku akan selalu ada untukmu. Meski jemari mu dan suara ku tak berfungsi lagi, kita masih punya hati. Yang disana bila dipadukan akan menyajikan lagu terindah dalam perjalanan hidup kita” jawabku dengan yakin.
            Aku ingat dan bahkan akan selalu ingat, janji itu aku dan kamu ucapkan disebuah studio band tepat setelah kita selesai berlatih.  Dimana tangan kiri ku menggenggam sebuah mic, tangan kanan mu mengenggam gitar serta tangan kanan ku dan tangan kiri mu yang saling menggenggam saat berucap janji. Ya, bahkan alat-alat musik itu pun menjadi saksi, bahwa kita dipertemukan lewat alunan nada dan suara.

******************************

            Banyak sudah nada yang kau mainkan untukku, banyak sudah lagu yang aku nyanyikan untukmu. Semestapun turut mendukung kebersamaan kita. Sampai suatu ketika semesta merubah keputusannya. Lewat restu orangtua yang tidak kita dapat, kita berpisah. Ibuku yang tak menyetujui hubungan kita, memaksaku untuk harus mengakhiri segalanya.
            “Ibu gak suka kamu pacaran sama dia, Lun. Dia itu cuma anak band! Hidupnya gak jelas. Apa bisa dia bahagiain kamu nantinya?”
            “Tapi bu, Luna sayang sama dia. Kita saling membahagiakan kok bu. Luna mohon bu, beri restu ibu untuk Luna dan dia”
            “Gak bisa Luna! Sekali ibu bilang gak boleh, sampai kapan pun ibu gak akan berikan restu!” bentak ibu.
            Ya aku bisa apa? Bilanya aku takut mejadi anak durhaka, aku pun dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan ibuku. Sudah ada satu tahun dan tujuh bulan yang kita lewati bersama, tapi September 2012 semunya harus ku selesaikan. Berat rasanya pergi darimu, jauh dari mu dan meninggalkan mu. Tapi aku bisa apa? Mungkin ini keputusan terbaik yang diberikan oleh semesta.
            “Aku gak mau kita pisah, Ki. Aku sayang sama kamu, aku gak mau jauh dari kamu, Ki. Tapi aku juga gak bisa nentang ibu. Beliau yang mengandung dan membesarkan aku, aku gak mau nantinya jadi anak durhaka. Aku bingung, Ki. Aku bingung.”
            “Lun, keputusan mu sudah paling tepat. Kita putus bukan berarti harus menyudahi segalanya kan? Kita hanya tak bisa bersama setiap waktu seperti dulu lagi. Tapi bilanya kamu membutuhkan bahagia, datanglah padaku. Aku akan tetap selalu ada untukmu, Lun. Percayalah, selama aku dan kamu berada dibawah langit yang sama, meskipun raga kita berjauhan, namun nama ku akan selalu ku sebut didalam doa, Lun. Cari aku untuk bahagiamu”
            Ya, aku percaya dan akan selalu percaya dengan segala ucapan mu waktu itu.

**************************************

            Beberapa bulan sudah kita berpisah. Maaf atas kesalahan ku yang dengan cepat pindah ke lain hati. Bukan, ini bukan karena aku tak setia atau tak mencintaimu lagi, tapi karena aku harus menuruti pinta ibuku. Aku bersama yang baru, sedangkan kamu? Masih tetap sendiri. Berulang kali aku bilang agar kamu coba membuka hati, tapi kamu tak pernah mau. Kamu bilang kamu ingin nikmati bahagia ku, meski kamu sudah tak bersama ku lagi.
            Di penghunjung tahun 2012, kamu yang selalu aku sayang dan tak pernah lepas dari ingatan, terkapar lemah di sebuah rumah sakit. Kecelakaan yang berhasil meretakan tulang didadamu, membuat aku pun sulit untuk bernapas. Tuhan, aku rela tulangku menggantikan tulangnya agar dia bisa tetap sehat dan ada selalu untukku. Aku ingat dan akan selalu ingat percakapan terakhir yang kita lakukan disalah satu ruang rumah sakit itu.
            “Lun, jangan nangis. Aku baik-baik aja kok. Cuma sesak napas aja sedikit. Rasanya tuh kayak lagi dipeluk kamu, tapi kamu terlalu erat banget meluknya. Hehehe”
            “Ki, apaansiiiih.... Kok kamu malah becanda gitu, kamu sakit ki. Kamu susah napas, iya kan? Ki kamu janji ya, kamu harus sembuh, kamu harus main gitar lagi, kamu harus ngiringin aku nyanyi lagi ya Kiiii....”
            “Lun, aku seneng. Kamu sekarang udah ada yang jaga. Radit baik, Lun. Dia bisa gantiin posisi aku. Jadi setidaknya kalau aku pergi sekarang, aku seneng, sebab kamu bisa nyanyi untuk Radit sekarang.”
            Itu kalimat terakhir yang kamu ucapkan untukku. Setelah itu, jangankan memanggil namaku, matamu terbuka pun tidak. Ya, kamu berada didalam dunia lain, tapi jantungmu masih bisa berdetak. Aku tau sakitnya, aku pun merasakan hal yang sama. Jika aku bisa memilih, aku ingin sakit sepertimu, aku ingin tulang dada ku pun retak, agar kita sama-sama sulit bernapas.

**************************************

            Dibulan yang sama, ditahun yang berbeda, aku bertemu dengan mu bukan disebuah ruang studio band lagi, tapi kini ditempat peristirahatan terakhir mu. Kamu tenang dan tak harus merasakan sesak di dadamu lagi. Kamu tenang, tak harus lagi merasakan hati yang sakit sebab melihat aku telah bersama dengan yang lain. Aku tau, jauh sebelum tulang dadamu retak, hatimu pun telah retak, mungkin hancur bak kepingan kaca yang dihantam oleh bola besi. Tapi kamu hebat, kamu pandai menyembunyikan segala sakitmu.
            Rifki, kini kita tak lagi berada dibawah langit yang sama. Bahkan aku dan kamu telah berada didalam dunia yang berbeda. Tapi sama seperti katamu waktu awal kita bersama, namamu akan selalu ku sebut didalam doa. Kita bertemu di surga ya, Ki. Kita jalani apa yang tak direstui di dunia sementara ini. Aku sayang kamu, Ki. Selalu.


***************************************

*cerita nyata dari kisah cinta kak @abdinashindi. Sedikit-banyak perubahan yang dilakukan dalam cerpen ini. Makasih ya kak Shin, karena kamu aku tau banyak kisah FTV yang diangkat dari dunia nyata, tapi jarang sekali kisah FTV yang menjadi nyata. Kamu hebat kak Shin :))

Komentar

  1. tapi, ini bukan cerpen ra. coba baca putuwijaya.wordpress.com atau cerpen @aviantiarmand..

    BalasHapus
    Balasan
    1. gitu ya? terus ini termasuk apa dong? :|

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia