Bay!
Jadi mau tanggal 7 atau tanggal 8?
Tanggal 8 aja deh
Biar apa?
Biar ga putus hehehehehe.
Singkat. Padat. Jelas. Iya sih tanggal 8 itu ga putus tapi katanya muter-muter di situ aja.
Ya kan katanya, kata saya mah engga.
Semoga.
Kali pertama, saat siap untuk mengekspresikan segala kemarahan, tunggu bukan marah hanya saja kesal yang dipendam tapi kemudian tak ada respond dari yang bersangkutan. Loh? Saya ini mau marah loh. Dia kemana? Mengapa tak ada jawaban? Ternyata dia tidur. Ya mungkin daripada meladeni orang yang akan marah tanpa alasan yang jelas, lebih baik ia menggunakan waktunya untuk tidur. Toh dia percaya, keesokan harinya orang yang berkeinginan marah itu akan kembali ceria. Dan betul saja. Semudah itu ia mengenal saya, saya yang belum mengenal ia sepenuhnya.
Kenal di mana? Di Tinder.
Saya yakin banyak di antara kamu yang tidak asing dengan kata itu.
Tinder.
Kok bisa? Bukannya di sana isinya lelaki aneh semua? Ih kamu ga takut diculik? Ih kok percaya sih sama lelaki dari dunia maya?
Oke.
Mengapa bisa? Ya bisa. Sebuah keisengan seorang sahabat yang tak mau melihat diri ini berlarut karna hati yang patah, tiba-tiba saja di hp sudah terpasang aplikasi itu. Sudah sign up dengan akun facebook yang saya punya. Dan sebuah seruan "Ini gue swipe right semua ya Ra! Masih kan demenan lo yang tinggi, kacamata, muka bersih, umur lebih tua dan nampak dewasa?" Damn! Kini saya tahu kenapa saya masih bersahabat dengannya karna untuk hal sederhana macam itu ia tak lupa :)
Bukannya di sana isinya lelaki aneh semua? Begitulah manusia terlalu mudah untuk menuding. Terlalu senang hidup dalam dugaan. Padahal yang berpendapat hanya bermodal kata orang, belum merasakannya sendiri. Ya memang ada lelaki aneh, hampir banyak, tapi tidak semua. Dia salah satunya, kalaupun ternyata ketika kalian mengenal dia dan berpendapat kalau dia aneh, ya selera saya mungkin yang aneh-aneh. Macam dia.
Ih kamu ga takut diculik? Takut? Diculik? Saya lebih takut kalau tidak membuatnya bahagia dan dengan sengaja menyakitinya. Semoga tidak. Semoga ketika saya berkata dan berucap kepadanya selalu kalimat-kalimat manis yang ia dengar.
Ih kok percaya sama lelaki dari dunia maya? Bersyukur saya dibesarkan dengan pendidikan yang cukup tinggi. Orang tua berhasil membawa saya hingga ke bangku perkuliahan, sehingga saya dengan pintar bisa membedakan mana lelaki yang harus saya percaya dan tidak. And by the way saya kenal dia dari 2017 dan selama itu dia sekalipun ga pernah ngajak meet up sama sekali. Pertemuan pertama kami di 2018. Jadi lelaki yang patut dicurigai dan tidak boleh asal dipercaya dari dunia maya adalah yang baru chattingan tiga jam terus udah langsung minta buat main ke kosannya.
Please dont! :p
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar