Selamat!
"Memberikan ucapan selamat kepada diri sendiri, karna pada akhirnya ia telah berhasil untuk tetap terus melangkah ke depan meski tak mudah, namun bisa."
Satu tahun sudah.
Hati yang mendadak menjadi gelap, karna telah ditinggalkan cahayanya. Sempat berpikir bahwa tak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Semua gelap. Tak ada yang bisa dilihat. Kecuali luka, yang tak nampak namun jelas rasa sakitnya. Bagi Tuhan Yang Maha Baik, mengabulkan segala pinta umatnya adalah tugas-Nya. Terlebih memang bila yang diminta adalah apa-apa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab sebagai manusia, hidup hanya untuk sebagai pemeran dari segala cerita yang sudah selesai ditulis, meski kita belum tahu akhirnya.
"Ya Tuhan, bila memang bukan dia yang terakhir, bila memang bukan dengan dia aku akan membuat cerita dalam hidup, bila memang bukan namanya yang Kau tuliskan untukku, maka pisahkanlah. Jangan biarkan aku terlalu lama bersama orang yang salah" -- seperti itulah yang bisa ku ingat doa yang ku panjatkan kepada Yang Maha Esa saat memang keraguan dalam diri semakin besar. Aku bukan tipe umat yang suka memaksa, yang berdoa -- Tuhan jodohkanlah ia dengan ku, bila memang ternyata ia bukan jodoh ku, maka tolong untuk jodohkan -- tidak, aku tidak pernah berdoa seegois itu. Karna untuk apa? Toh Tuhan sudah memberikan jodoh kepada kita jauh sebelum kita mengenal manisnya es kepal milo dan pedasnya seblak jeletot level 3. Hanya percaya, percaya bahwa Tuhan Maha Baik dan tak akan membiarkan mu terjebak dalam hal-hal yang salah.
Apa aku menyesal pernah berdoa seperti itu? Apa aku merasa bodoh telah melayangkan kalimat seperti itu kemudian diaminkan oleh semesta dan hanya dalam hitungan hari dia tak lagi bersama ku? Tidak. Tidak ada penyesalan, namun sempat merasa bodoh. Merasakan semua sia-sia karna sudah bertahan pada hal yang salah tidak dalam waktu yang sebentar. Merasa bodoh karna telah mencintai seseorang dengan sebegitunya yang telah kalian ketahui bahwa dulu tak ada satupun puisi yang ku buat tanpa namanya. Mencintainya bahkan dalam jarak. Merindukannya bahkan bila ternyata ia di sana sedang sibuk merindukan yang dekat. Tak apa. Kebodohan ku dulu semoga menjadi ilmu yang bermanfaat untuk aku di kemudian hari. Semoga tak lagi aku mencintai seseorang dalam kebodohan. Aamiin.
Untuk orang-orang di sekitar, untuk mereka yang sibuk mempertanyakan "Kenapa kalian berpisah? Ada apa? Bukankah kalian saling mencintai? Apakah dia tergoda dengan yang lain? Apakah kamu menyerah?" -- Maaf karena tak langsung memberikan jawaban. Karna jangankan untuk menjawab pertanyaan yang kalian berikan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hati ku saja aku tak punya jawabannya. Seakan hati hanyalah kertas kosong, yang padahal sebelumnya ribuan paragraf telah terketik rapih menjadi sebuah dongeng indah di sana. Sepersekian detik hilang ketika ku baca pesan yang dikirimkannya, yang menghendaki sebuah perpisahan. Aku tak ingat lagi kalimat-kalimat apa yang ada dalam pesan itu (terimakasih Tuhan karna meski sulit untuk melupakan, tapi Kau membantu untuk menghapuskan) yang ku ingat adalah telah ku buatkan paragraf terakhir yang berisikan namanya. Yang kini bisa ku baca ulang di saat aku mulai bertindak bodoh untuk merindukannya.
Dia menyerah, bukan aku yang kalah, bukan jarak yang salah.
Mungkin aku terlalu baik dan dia merasa tak pantas untuk mendapatkan yang baik.
Atau mungkin aku tak baik, oleh sebabnya ia mencari yang lain yang menurutnya baik.
Terserah kataku, karna aku bukan dilahirkan sebagai seseorang yang egois -- meski dulu teramat mencintainya dan merasa tak kan bisa hidup tanpanya -- ku iyakan permintaannya untuk berpisah,
Sekarang kalian tahu, siapa yang dengan mudah berkata selesai?
Tapi, Selamat! Akhirnya tiba waktu di mana ketika mengingat semua tentang dia,
tak lagi merasa sulit untuk bernapas.
Selamat! Ketika mendengar namanya tak ada lagi air mata yang mengalir dengan mudahnya.
Selamat! Kau bisa menerima, ketika tahu bahwa kini ia telah bersama dengan yang lain untuk mungkin sehidup semati.
Dan, selamat! Pada kenyataannya kau masih bisa hidup, masih bisa tersenyum dan makin banyak bersyukur karna belum tentu kalau sampai sekarang kau masih bersamanya, kau bisa sebahagia ini.
...................................................
Selesai sudah. Mari buka lembaran baru. Jangan takut. Banyak berdoa.
Panjatkan semua hal-hal baik. Untuk masa lalumu, maupun yang akan datang.
Jangan dendam, kecantikan mu akan hilang.
Jangan marah, energimu akan habis tanpa guna.
Jangan sedih, air mata mu terlalu mahal untuk menangisi hal-hal yang telah menjadi sampah.
Jangan takut, percayalah akan ada lagi seseorang yang siap merentangkan kedua tangannya untuk memelukmu bila ada mimpi buruk yang datang.
"Mencintai seadanya. Ada sayang, secukupnya. Ada kasih, jangan berlebih. Ada suka, penuh tawa. Ada duka, jangan terlalu lama. Ada cemburu, sesekali jangan melulu. Ada rindu, bersabar untuk temu. Jangan berlebih, sebab kau tak tahu apa ia akan selalu membahagiakan hati atau justru menyakiti."
-Raras-
He's out there, Ra. Kamu cewek kuat. Malah ini waktunya kamu makin memantaskan diri untuk yang terbaik :*
BalasHapusthankyou kak :)
Hapus