Bagian Dari Usaha Ku
Aku ingat bagaimana untuk pertama pertemuan kita di depan gerbang itu.
Mengulurkan tangan pun tidak, seakan-akan telah ribuan hari kita saling kenal.
Setelah itu, bermimpi tentang menjadi milik mu tak pernah ku lakukan. Sebab aku takut, diri ini tak begitu baik untuk menjadi kepunyaan mu.
Pertemuan berikutnya, lebih dekat. Bahkan tak ada lagi jarak di antara ruas jari. Kita saling mengisi, pun di dalam hati. Sedikit demi sedikit, bunga-bunga di taman pikiran dan perasaan telah bermekaran.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, bila tak ada jumpa, lahirlah rindu. Adalah kita yang sedang saling membahagiakan kala itu. Sampai aku tahu bahwa mungkin setidaknya aku sedikit pantas untuk menjadi penghuni hati mu. Bermodalkan dengan sayang setengah ragu, ku katakan iya, saat kau bertanya sudikah aku menjalani lebih banyak hari dengan mu.
Ku pikir, kebersamaan itu hanya semu. Sebulan dua bulan, ku kira kita akan saling bosan. Tapi ternyata tiap kesalahan yang saling kita buat, dapat dengan mudah tuk saling kita maafkan. Kita bertahan, dengan segala kecemburuan dan amarah yang kadang datang tanpa alasan.
Ada tamu yang mengetuk pintu kebahagiaan di mana kita tinggal di dalamnya. Ia memperkenalkan diri sebagai jarak. Memohon ijin untuk tinggal bersama dengan kita. Lalu bagaimana? Tak mungkin kita tolak sebab kita tak hidup di negeri dogeng di mana sihir dapat bekerja. Kita terima, dengan keyakinan dan kesabaran.
Tinggal bersama jarak memberikan lebih banyak ujian kepada kita. Kadang tidak tahu harus apa, kadang tidak mengerti harus bagaimana, jarak hanya tertawa melihat kita kebingungan.
Mungkin saat ini, kamu sedang terlalu muak dengan jarak yang terus menumpang pada kehidupan kita. Dengan jarak yang terus saja menjadi penggangu. Dengan jarak yang selalu saja berdiri di tengah-tengah kita sehingga sulit sekali untuk bertemu muka.
Kembalikan kebahagiaan dalam hidup mu dengan memutar kembali segala tawa yang telah kita simpan rapih dalam kenangan. Acuhkan saja si jarak. Kita hanya mengijinkan ia tinggal bersama kita dalam waktu sementara. Setelah semua siap, kita tinggalkan ia.
Pikirkan, kita bertaruh bukan hanya diri ini melainkan mereka. Mereka yang telah memanjatkan doa-doa menuju semesta untuk kebersamaan kita. Meski sulit bagi ku menggenggam tangan mu tuk sekadar saling menguatkan, sulit bagi ku memeluk tubuh mu tuk sekadar saling meyakinkan, dengan tetap saling merindu cukup tuk buat ku percaya kita bisa bertahan.
Tapi,
menyerahlah bila mungkin kamu sudah terlalu lelah,
berlarilah sembunyikan dirimu hingga tak bisa lagi ku temukan,
pergilah bila memang hidup bersama ku dan jarak menyusahkan hati mu.
Mengulurkan tangan pun tidak, seakan-akan telah ribuan hari kita saling kenal.
Setelah itu, bermimpi tentang menjadi milik mu tak pernah ku lakukan. Sebab aku takut, diri ini tak begitu baik untuk menjadi kepunyaan mu.
Pertemuan berikutnya, lebih dekat. Bahkan tak ada lagi jarak di antara ruas jari. Kita saling mengisi, pun di dalam hati. Sedikit demi sedikit, bunga-bunga di taman pikiran dan perasaan telah bermekaran.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, bila tak ada jumpa, lahirlah rindu. Adalah kita yang sedang saling membahagiakan kala itu. Sampai aku tahu bahwa mungkin setidaknya aku sedikit pantas untuk menjadi penghuni hati mu. Bermodalkan dengan sayang setengah ragu, ku katakan iya, saat kau bertanya sudikah aku menjalani lebih banyak hari dengan mu.
Ku pikir, kebersamaan itu hanya semu. Sebulan dua bulan, ku kira kita akan saling bosan. Tapi ternyata tiap kesalahan yang saling kita buat, dapat dengan mudah tuk saling kita maafkan. Kita bertahan, dengan segala kecemburuan dan amarah yang kadang datang tanpa alasan.
Ada tamu yang mengetuk pintu kebahagiaan di mana kita tinggal di dalamnya. Ia memperkenalkan diri sebagai jarak. Memohon ijin untuk tinggal bersama dengan kita. Lalu bagaimana? Tak mungkin kita tolak sebab kita tak hidup di negeri dogeng di mana sihir dapat bekerja. Kita terima, dengan keyakinan dan kesabaran.
Tinggal bersama jarak memberikan lebih banyak ujian kepada kita. Kadang tidak tahu harus apa, kadang tidak mengerti harus bagaimana, jarak hanya tertawa melihat kita kebingungan.
Mungkin saat ini, kamu sedang terlalu muak dengan jarak yang terus menumpang pada kehidupan kita. Dengan jarak yang terus saja menjadi penggangu. Dengan jarak yang selalu saja berdiri di tengah-tengah kita sehingga sulit sekali untuk bertemu muka.
Kembalikan kebahagiaan dalam hidup mu dengan memutar kembali segala tawa yang telah kita simpan rapih dalam kenangan. Acuhkan saja si jarak. Kita hanya mengijinkan ia tinggal bersama kita dalam waktu sementara. Setelah semua siap, kita tinggalkan ia.
Pikirkan, kita bertaruh bukan hanya diri ini melainkan mereka. Mereka yang telah memanjatkan doa-doa menuju semesta untuk kebersamaan kita. Meski sulit bagi ku menggenggam tangan mu tuk sekadar saling menguatkan, sulit bagi ku memeluk tubuh mu tuk sekadar saling meyakinkan, dengan tetap saling merindu cukup tuk buat ku percaya kita bisa bertahan.
Tapi,
menyerahlah bila mungkin kamu sudah terlalu lelah,
berlarilah sembunyikan dirimu hingga tak bisa lagi ku temukan,
pergilah bila memang hidup bersama ku dan jarak menyusahkan hati mu.
"Aku tak kan pernah menyerah,
sekalipun aku kalah, itu adalah keputusan Tuhan,
bukan atas mau ku."
sekalipun aku kalah, itu adalah keputusan Tuhan,
bukan atas mau ku."
Bagus banget tulisannyaaa mellow :')
BalasHapusThankyou :)
Hapus