Sebelum 23..........
*tulisan sebelumnya di 2015*
(Sebelum 22......)
Bismillah.........
AAAARRGHHHHHHHHHHHH!
Ku rasa 3 huruf diketik dengan banyak-banyak seperti itu pantas untuk mengawali tulisan kali ini. Menjalani usia 22 tahun dengan segala macam rupa rasa. Didominasi dengan hal-hal yang cukup menguras tenaga dan air mata. Di usia ini kayaknya aku lebih sering mengisi ulang kuota sabar ku daripada kuota internet.
Ya, tak apa, mungkin Tuhan sedang sayang-sayangnya dengan diri ini.
........
Asmara
Untuk hal-hal yang dipanjatkan kepada Tuhan di "Sebelum 22" masih sama dikabulkan dengan status ku yang masih menjadi kekasih tersayang dari lelaki di pulau seberang. Bedanya? Di usia ini ada jarak yang tadinya tak seberapa menjadi layak diperhitungkan yang tergelar di antara kami.
Sungguh, sudah lupa ntah di bulan berapa aku terakhir melihat wajahnya.
Tapi tunggu, satu hal yang selalu ku ingat adalah ia "Pahlawan Kesabaran".
Tak habis-habis sabarnya menjalani hari dengan aku, perempuan yang selalu mengeluh berat menjalani pacaran jarak jauh, tapi tetap saja bertahan juga. Hahaha. Namanya juga cinta.
Keluarga
Selain menyisihkan banyak sabar dalam urusan percintaan, harus juga ku sisihkan sabar ku dalam lingkup keluarga. Ku selalu katakan pada kekasihku "Aku selalu mengutamakan keluarga, bila kau ingin diutamakan, mari kita berkeluarga." (Hehehe) Ya karena mengutamakan itulah tanggung jawab ku menjadi lebih besar (tapi masih lebih besar rindu ini kepadanya). Menyaksikan hal-hal yang selama ini tak pernah ku ketahui. Dimaklumkan, karena sebelumnya 4 tahun ku habiskan waktu untuk tinggal jauh dari keluarga. Jadi mungkin kini ketika kembali lagi tinggal bersama banyak timbul pertanyaan di kepala.
Tidak sekali dua kali aku mengelus dada, tidak tiga empat kali aku menyeka air mata. Perkara keluarga memang hal yang tak bisa dibantah, tak bisa dilawan, sebab kemana lagi kau berlari bila ada masalah kalau bukan ke keluarga mu. Lagi dan lagi ku yakinkan diri kalau mungkin Tuhan sedang sayang-sayangnya dengan aku. Oleh sebabnya Tuhan (mungkin) ingin lihat bagaimana usaha ku untuk berbalas budi dengan mereka yang telah berusasah payah membesarkan ku.
Okey. Tidak apa-apa. Sabarku kan banyak, bila habis tinggal isi kembali.
Pekerjaan
Pun dalam hal ini, sabar masih juga dibutuhkan. Menjadi sarjana di pertengahan tahun 2015. Mengikuti kata orangtua untuk kembali ke ibu kota dan bekerja di sana.
Semua ku jalani, dengan panjatan doa-doa yang tak berhenti dihantarkan ke langit.
Awal kembali ke ibu kota belum terasa apa-apa.
Semua lowongan yang tersedia dicoba.
Sebulan, dua bulan, tak ada kabar.
Yasudah aku masih sabar.
Tiga empat bulan terlewati dan rasa jenuh hanya berdiam diri di rumah pun mulai terasa. Berdoa lebih banyak lagi dan berusaha lebih keras lagi. Tapi ya begitu, terlalu banyak doa yang dipertimbangkan Tuhan. Ntah Tuhan masih ragu untuk mengabulkan atau Tuhan rasa doa ku belum pantas untuk dikabulkan~
"Aku pengin jadi guru ya Tuhan. Mau ngajarin anak orang bahasa Jerman. Mau bikin anak orang bisa bahasa Jerman." <<< kira-kira begitulah doa ku untuk pekerjaan. Dan benar saja Tuhan mengabulkannya. Dengan memberikan pekerjaan lewat mengajar. Jalur lain yang ku coba, tak ada yang dikabulkan. Hahahaha. Tidak apa-apa. "Learning by teaching, being teacher is amazing!"
............
Untuk 23?
Tak apa Tuhan, bila dengan memberi ku cobaan, menyediakan air mata untuk ku sering jatuhkan adalah bentuk kasih sayang teramat sangat dari Kau, tak apa, ku terima. Semoga setelahnya selalu Kau sediakan hal-hal bahagia bila ternyata ku berhasil melewatinya. Percaya, bahwasanya suka dan duka adalah paketan yang tak pernah bisa diminta hanya salah satunya.
Menapakan kaki di tanah Eropa belum juga Kau iya-kan, mungkin Kau masih ragu akan kemampuan ku. Tak apa, asal Kau berikan terus-menerus anak-anak murid yang bisa ku ajar, dengan begitu semakin canggih juga ilmu ku. Dan tak ada lagi alasan-Mu untuk tidak mengiyakan doa ku.
Masih berjauhan dengan kekasih yang ku cinta? Tak apa. Bila ini adalah jalan yang Kau susun agar masing-masing dari kami mempersiapkan diri untuk hal-hal indah yang akan Kau berikan nantinya. Jangan lupa Tuhan, kami telah memiliki restu dari orang tua kami masing-masing. Dengarlah doa mereka :)
Sisanya akan ku panjatkan sendiri...
Berharap angin, dedaunan, burung-burung, dan seisi alam lainnya membantu ku untuk membujuk-Mu dengan mesra sedikit demi sedikit yang ku panjatkan agar Kau kabulkan.
(Sebelum 22......)
Bismillah.........
AAAARRGHHHHHHHHHHHH!
Ku rasa 3 huruf diketik dengan banyak-banyak seperti itu pantas untuk mengawali tulisan kali ini. Menjalani usia 22 tahun dengan segala macam rupa rasa. Didominasi dengan hal-hal yang cukup menguras tenaga dan air mata. Di usia ini kayaknya aku lebih sering mengisi ulang kuota sabar ku daripada kuota internet.
Ya, tak apa, mungkin Tuhan sedang sayang-sayangnya dengan diri ini.
........
Asmara
Untuk hal-hal yang dipanjatkan kepada Tuhan di "Sebelum 22" masih sama dikabulkan dengan status ku yang masih menjadi kekasih tersayang dari lelaki di pulau seberang. Bedanya? Di usia ini ada jarak yang tadinya tak seberapa menjadi layak diperhitungkan yang tergelar di antara kami.
Sungguh, sudah lupa ntah di bulan berapa aku terakhir melihat wajahnya.
Tapi tunggu, satu hal yang selalu ku ingat adalah ia "Pahlawan Kesabaran".
Tak habis-habis sabarnya menjalani hari dengan aku, perempuan yang selalu mengeluh berat menjalani pacaran jarak jauh, tapi tetap saja bertahan juga. Hahaha. Namanya juga cinta.
Keluarga
Selain menyisihkan banyak sabar dalam urusan percintaan, harus juga ku sisihkan sabar ku dalam lingkup keluarga. Ku selalu katakan pada kekasihku "Aku selalu mengutamakan keluarga, bila kau ingin diutamakan, mari kita berkeluarga." (Hehehe) Ya karena mengutamakan itulah tanggung jawab ku menjadi lebih besar (tapi masih lebih besar rindu ini kepadanya). Menyaksikan hal-hal yang selama ini tak pernah ku ketahui. Dimaklumkan, karena sebelumnya 4 tahun ku habiskan waktu untuk tinggal jauh dari keluarga. Jadi mungkin kini ketika kembali lagi tinggal bersama banyak timbul pertanyaan di kepala.
Tidak sekali dua kali aku mengelus dada, tidak tiga empat kali aku menyeka air mata. Perkara keluarga memang hal yang tak bisa dibantah, tak bisa dilawan, sebab kemana lagi kau berlari bila ada masalah kalau bukan ke keluarga mu. Lagi dan lagi ku yakinkan diri kalau mungkin Tuhan sedang sayang-sayangnya dengan aku. Oleh sebabnya Tuhan (mungkin) ingin lihat bagaimana usaha ku untuk berbalas budi dengan mereka yang telah berusasah payah membesarkan ku.
Okey. Tidak apa-apa. Sabarku kan banyak, bila habis tinggal isi kembali.
Pekerjaan
Pun dalam hal ini, sabar masih juga dibutuhkan. Menjadi sarjana di pertengahan tahun 2015. Mengikuti kata orangtua untuk kembali ke ibu kota dan bekerja di sana.
Semua ku jalani, dengan panjatan doa-doa yang tak berhenti dihantarkan ke langit.
Awal kembali ke ibu kota belum terasa apa-apa.
Semua lowongan yang tersedia dicoba.
Sebulan, dua bulan, tak ada kabar.
Yasudah aku masih sabar.
Tiga empat bulan terlewati dan rasa jenuh hanya berdiam diri di rumah pun mulai terasa. Berdoa lebih banyak lagi dan berusaha lebih keras lagi. Tapi ya begitu, terlalu banyak doa yang dipertimbangkan Tuhan. Ntah Tuhan masih ragu untuk mengabulkan atau Tuhan rasa doa ku belum pantas untuk dikabulkan~
"Aku pengin jadi guru ya Tuhan. Mau ngajarin anak orang bahasa Jerman. Mau bikin anak orang bisa bahasa Jerman." <<< kira-kira begitulah doa ku untuk pekerjaan. Dan benar saja Tuhan mengabulkannya. Dengan memberikan pekerjaan lewat mengajar. Jalur lain yang ku coba, tak ada yang dikabulkan. Hahahaha. Tidak apa-apa. "Learning by teaching, being teacher is amazing!"
............
Untuk 23?
Tak apa Tuhan, bila dengan memberi ku cobaan, menyediakan air mata untuk ku sering jatuhkan adalah bentuk kasih sayang teramat sangat dari Kau, tak apa, ku terima. Semoga setelahnya selalu Kau sediakan hal-hal bahagia bila ternyata ku berhasil melewatinya. Percaya, bahwasanya suka dan duka adalah paketan yang tak pernah bisa diminta hanya salah satunya.
Menapakan kaki di tanah Eropa belum juga Kau iya-kan, mungkin Kau masih ragu akan kemampuan ku. Tak apa, asal Kau berikan terus-menerus anak-anak murid yang bisa ku ajar, dengan begitu semakin canggih juga ilmu ku. Dan tak ada lagi alasan-Mu untuk tidak mengiyakan doa ku.
Masih berjauhan dengan kekasih yang ku cinta? Tak apa. Bila ini adalah jalan yang Kau susun agar masing-masing dari kami mempersiapkan diri untuk hal-hal indah yang akan Kau berikan nantinya. Jangan lupa Tuhan, kami telah memiliki restu dari orang tua kami masing-masing. Dengarlah doa mereka :)
Sisanya akan ku panjatkan sendiri...
Berharap angin, dedaunan, burung-burung, dan seisi alam lainnya membantu ku untuk membujuk-Mu dengan mesra sedikit demi sedikit yang ku panjatkan agar Kau kabulkan.
Hal yang selalu ku percaya adalah apa yang ku minta memang kadang hanya sebatas kemauan ku saja, kemudian Kau pertimbangkan. Bila memang Kau setuju, akan Kau kabulkan. Bila memang menurut-Mu tak baik, Kau akan berikan yang lainnya yang jauh lebih baik.
Tak apa, sabar dulu, sabar terus, sampai lupa rasanya tak sabaran.
*Selamat 23, Raras!*
Komentar
Posting Komentar