Cerita Tentang Jarak: Bagaimana saya menjalaninya?

Apa saya pernah bermimpi menjalani sebuah hubungan yang teramat sulit untuk bertemu karena terpisah jarak? Tidak. Apa saya pernah bermimpi mencintai seseorang sebegitunya hingga tak jumpa pun tak apa? Tidak. Namun, saya pernah berdoa. Dengan khusyuk, menghantarkan airmata kembali ke tanah untuk seseorang yang kini sedang bersama saya. Untuk itu saya siap dan saya berani menjalin hubungan bertiga, dengan dia dan jarak.

Seberapa besar saya memberikan kepercayaan kepada pasangan saya yang jauh? Sepenuhnya. Mengapa? Apa saya tak takut bila nanti kepercayaan saya itu dirusak? Tidak.
Bagi saya, mempercayai seseorang tidak boleh setengah-setengah. Percaya, ya sudah. Jalani apa yang telah saya percaya. Bagaimana bila nanti dia merusak kepercayaan saya? Saya akan sedih. Saya akan kecewa. Pun saya akan berterimakasih, karena dengan begitu saya sadar, saya telah menaruh kepercayaan pada orang yang salah. Mudah.

Bagi saya tak pernah ada kesempatan kedua, ketiga, pun kelima. Kali pertama saya diberikan kesempatan untuk dapat berkenalan dan jatuh cinta dengan pasangan saya, kali itu juga saya akan bersungguh-sungguh dan tak lagi main-main. Mengapa? Sebab masa bermain saya telah usai. Saya sudah terlalu puas bermain di taman kanak-kanak hingga berjalan-jalan di mall dengan seragam putih abu-abu saya. Bertambah usia, perkara cinta tak lagi melulu soal amarah dan cemburu, di sana harus ada kepala dingin untuk menebarkan hawa-hawa salju pada hati yang marah.

Berpasangan itu harus menyenangkan, sedikit sedihnya, kalau terlalu banyak berarti bukan pasangan. Cari lagi yang lain, yang cocok. Untuk bertahan pada hubungan jarak jauh, kamu harus menemukan pasangan yang tepat. Bila gagal, bukan jarak yang salah. Namun, kalian.

Tak ada kabar, pesan yang lama diberi balasan, temu yang masih sekedar angan, rindu yang kian lama kian menggebu adalah sepersekian bumbu yang ada dalam rasa pacaran jarak jauh. Saya menyukai rasa itu, saya candu. Menyenangkan bila dapat bertemu dengan ia yang jauh, menggenggam kembali tangannya dengan erat, berada lagi dalam dekap, bercumbu mengusir pilu, teramat nyata. Meski saat membuka mata, sosoknya hanya tertinggal di dalam pikiran.

Tak apa, saya bersabar.
Tak pernah menuntut banyak, hanya terus meyakinkannya bahwa saya menunggu.

Komentar

  1. kalo yang diajak jarak jauh alias LDRan kurang menyakinkan gimana ya mbak😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tinggalkan. Apa apa yang masih diragukan sebaiknya dijauhkan. Sorry for late reply :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia