Perahu

Tuhan, ingin ku haturkan ribuaan maaf atas diri yang selalu luput untuk panjatkan syukur.
Atas diri yang sering kali lalai atau bahkan ingkar kepada janji-janji yang telah diterbangkan ke angkasa.
Sebenar-benarnya aku adalah ciptaan-Mu yang tak menyentuh kesempurnaan.

Aku selalu tak percaya, berada dalam perahu yang sering kali tak ku senangi perjalanannya.
Sering kali aku ingin perahu ini berjalan ke timur, tapi kemudian ombak tak sependapat dan melayarkan perahu ini ke arah barat.
Sering kali aku ingin sejenak beristirahat tanpa harus ada sebuah perjalanan, tapi angin tak kenal kompromi untuk tetap menggerak-gerakan layarnya.
Aku lelah. Butuh tempat tenang tanpa gelombang, tapi aku belum tiba di daratan.
Daratan telah nampak, meski sering kali menghilang, dan ku tahu itu hanya sebuah angan-angan.

Perjalanan ku masih jauh, dalam perahu yang tak bisa ku kendalikan sendiri, arahnya.

Orang-orang di dalam perahu ini, menyebalkan. Mereka mementingkan semua apa yang menurut mereka benar, tanpa tahu aturan, bahwa itu tak mesti selalu pembenaran, ada beberapa kesalahan yang harus kena perbaikan.
Orang-orang di dalam perahu ini, bodoh. Mereka tak bisa menguasai emosi. Emosi adalah raja, dan meraka adalah budak yang dipekerjakan tanpa ada sedikit pun bayaran.
Orang-orang di dalam perahu ini, cerewet. Mulutnya tak pernah bisa diam. Selalu berkata ini dan itu, padahal tak sesuai dengan kenyataan.
Aku, salah seorang dalam perahu ini yang telah lelah.Sungguh, kedua telinga ku berdarah, mendengar keluh-kesah yang mereka lontarkan dari pagi hingga malam.

Tuhan,
Bila ada pilihan, bila ku punya kesempatan, aku ingin berenang.
Ku sebrangi lautan ini dengan kaki dan tangan ku sendiri. Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga ku. Aku akan berenang hingga ke daratan, tanpa perlu lagi menanggung beban di dalam perahu, yang beratnya tak pernah sanggup ku perhitungkan. Aku ingin sekali terpejam, membiarkan telinga ku mendengar kicau burung saat Sang Maha Hangat tiba di peraduan, dan mendengarkan suara gesekan angin dengan air saat Purnama menyinari malam.

Tapi aku ragu aku bisa. Aku terlalu takut dengan silaunya siang dan dinginnya malam. Aku tak punya keberanian sebanyak pasir di pantai dan garam di lautan.

Aku harus bagaimana? Apa yang harus ku lakukan? Tetap bersenang-senang di perahu dengan senyum andalan yang biasa ku tunjukan? Atau haruskah aku menyerah dan mengadu pada orang-orang di dalam sana bahwa aku lelah? Atau haruskan aku melompat dari atas perahu dan menjatuhkan diri pada gelombang? Atau haruskan aku terus mengkhayal bahwa sebentar lagi akan tiba di daratan? Atau....haruskah aku tetap saja selalu bersabar?



- dari aku, di tengah gelombang yang cukup tinggi untuk diterjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia