Bagaimana kita saling membanggakan

Bye Skripsi!
6 Juli 2015, berlembar-lembar kertas yang saya susun hingga sedemikian tebal dan beratnya telah saya pertanggungjawabkan di depan 4 orang dosen penguji. Berhasil? Alhamdulillah.


Papah, salah satu penyokong dana utama hidup saya di Jogja, meski dibantu dengan uluran tangan dari adiknya, yang mana merupakan om bagi saya.

Papah gak pernah nanya bagaimana kuliah saya, bagaimana nilai-nilai saya di tiap mata kuliah dan kapan saya lulus. Gak, pertanyaan itu gak pernah dilontarkan oleh papah. Sekalipun iya, hanya sesekali, paling banyak dua kali. Tidak pernah diberikan pertanyaan semacam itu tidak lantas membuat saya cuek dan semena-mena dengan kuliah saya. Justru papah yang seperti itulah, membuat saya sadar akan tanggungjawab saya sendiri. Saya mempertanggung jawabkan bagaimana kuliah saya berjalan, saya mempertanggungjawabkan bagaimana hasil nilai-nilai saya, dan saya menargetkan kapan saya harus lulus. Saya mempertanggungjawabkan atas apa yang telah saya mulai, harus juga saya selesaikan, bukan saya tunda.

Pernah suatu ketika, saya mendapatkan nilai D di salah satu mata kuliah, kemudian...
Me : Pah, mata kuliah sejarah Jerman dapet D.
Papah : D itu jelek ya, Nak? Kenapa bisa dapet jelek?
Me : Soalnya aku gak suka pelajaran sejarah. Udah gitu full bahasa Jerman. Pusing aku.
Papah : Yaudahlah gapapa, orang kamunya gak bisa gitu.

See? Papah sama sekali gak marah atas nilai D di dua SKS yang saya dapatkan. Lantas karena gak marahnya papah, apa setelah itu saya santai? Tentu tidak. Saya berjuang keras di sejarah Jerman tingkat kedua. Meski akhir nilainya C+, tapi naik lah ya hahahaha.

Roland Tampubolon. Sebuah nama tunggal dengan marga di belakangnya. Loh kok gak ada embel-embelnya? Ya papah gak pernah merasakan bangku kuliah. Hanya lulusan SMA? Kenapa? Orangtuanya gak mampu biayain papah kuliah? Tentu tidak. Kakek saya adalah seorang pelayar. Berlayar kesana kemari untuk nafkahi anaknya. Seorang pelayar yang dibayar dengan mata uang asing tentu bisa menyekolahkan anaknya sampai bangku Universitas. Tapi apa daya, papah saya berada pada jalan untuk memilih tidak kuliah. (Saat itu papah nakal dan belum ada pikiran sama sekali soal saya. Tenggelam dalam hara-huru masa remaja-_-)

"Papah gak sarjana, tapi kamu harus!" adalah kalimat yang dilontarkan papah saat saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Mengharuskan saya kuliah tapi tidak memasukan saya dalam bimbel yang mana tujuannya untuk membantu ujian masuk Universitas negeri. Saya gak pernah les begituan, cuma les mapel yang akan di-UAN-kan saja. Sebab, dengan pekerjaan papah sebagai pegawai tidak tetap di sebuah Bank di Jakarta gajinya tidak mencukupi untuk biaya hidup saya, adik saya (yang jajannya banyak dan gak pernah cukup) dan untuk hidup papah sendiri. Daripada saya pakai uang papah buat les tes masuk Univ Negeri, mending dipakai adik saya jajan-_-. Jadilah saya pasrah, yang penting UANnya lulus, pikir saya waktu itu.

Tapi kemudian Tuhan menurunkan rezekinya untuk seorang anak yang sangat diinginkan papahnya untuk kuliah melalui jalur undangan SMPTN. Semester pertama kelas 3 saya mendapatkan peringkat 15, dan siswa yang berhak mendapatkan kesempatan masuk Universitas Negeri tanpa tes adalah siswa yang memperoleh peringkat 1 sampai 15. Kesempatan telah diperoleh dan gooooool....saya diterima di Universitas Negeri Yogyakarta, prodi Pendidikan Bahasa Jerman- S1. Yeiy! Doa papah terkabul.

******

September 2011, saya mulai kuliah...
Mengalami pasang surut nilai di tiap mata kuliah yang saya ambil...
Melalui KKN PPL yang menyayat-nyayat hati dan kesehatan...
Musibah laptop dimaling, bikin stress, tapi kata papah harus ikhlas biar dikasih ganti sama Allah, eh bener aja dapet yang baru dari om, lagi-lagi doa papah dikabulin...
Skripsi dengan bimbingan gak pernah lama, dan revisi gak pernah banyak...
Sidang dengan dorongan doa-doa yang dikirim oleh papah dari Jakarta...
Hari ini (31 Juli 2015) Yudisium FBS UNY periode Juli 2015...
Doa papah lagi lagi lagi dan lagi dikabulkan...

Putri sulung dari seorang papah yang teramat sangat membanggakan berhasil milikin gelar di belakang namanya, karna doa papah.

Semoga papah sehat selalu, diberi umur panjang biar selalu ada di samping Raras, rezekinya lancar, ibadahnya makin jago, dan Allah makin sering ngabulin doa papah.




With love,
Anak papah yang udah direstuin pacaran
Ciye papah mau punya mantu ~~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia