Ajakan Berdamai.

Yogyakarta, akhir Februari 2015



Baris-baris terakhir.


Teruntuk masa lalu,
izinkan aku untuk berdamai dengan mu.


Dalam surat ini mari kita sedikit berdiskusi. Aku ingin kita berdamai agar tenang sekarang ku. Lewat sudah apa-apa yang menyakitkan dulu. Rasanya hati yang patah, bukan lagi terbagi menjadi dua, melainkan lebur berantakan layaknya kaca yang pecah jatuh dari ketinggian. Sulitnya bernapas, meski ku tahu Tuhan ku tak pernah menyediakan sedikit oksigen untuk makhluknya. Tapi semua karena luka, luka yang ku jahit sendiri, ku sembuhkan sendiri, dan ku sembunyikan bekasnya.

Kesalahan paling parah dalam hidup ku adalah tak pernah berdamai dengan mu, masa lalu. Selalu saja aku mengungkit dan menyalahkan apa-apa yang terjadi terdahulu. Lelah, ringkih perasaan. Tak ada yang bisa ku lakukan, selain tangis yang ku gunakan sebagai senjata. Untuk cinta, bukan hanya sekedar indah yang tumbuh di masa terdahulu, tapi jatuh yang benar-benar dalam kepada orang yang salah. Yang ku sesalkan hingga kini, mengapa bodoh membiarkan hati ditinggali oleh penghuni yang tak tahu diri?

Perkara jatuh, luka, dan sakit adalah ritme kehidupan yang terus ada meski manusia tak menginginkan itu ada. Tapi hidup tidak hanya selalu senang. Sebab aku, kamu, mereka, bukan pemain sinetron yang jalan hidupnya bisa dirubah sepersekian detik bila tak layak masuk kamera. Aku, kamu, dan mereka adalah ciptaan yang benar-benar tlah tertulis jalan hidupnya jauh sebelum mata ini bisa melihat bagaimana warna langit, jauh sebelum telinga ini bisa mendengar bagaimana berisiknya mobil-mobil di jalan, jauh sebelum kulit ini bisa merasakan lembutnya kain sutra, dan jauh sebelum bibir ini bisa berucap kata cinta. Semestinya kita menjalani apa-apa yang tlah diberikan.

Apa yang ku inginkan sekarang adalah berbaikan dengan mu.
Mengutarakan beberapa maaf ku atas penyesalan yang tak pernah kunjung usai.
Aku ingin tenang, untuk hidup ku yang sekarang, tanpa pernah sekali pun menengok ke belakang.
Biarlah semua terpenjara dalam bekas luka yang ku sembunyikan.
Jangan pernah nanyakan di mana letak bekas luka itu.
Karena aku sendiri pun tak tahu.
Sebab aku tlah memaafkan dan melupakan.


Mari kita berjabat tangan
demi indahnya hidup ku di masa sekarang.

Komentar

  1. Berdamai dengan masa lalu itu emang susah, sampai sekarangpun aku blum bisa damai. Heheh.
    Makasih udah ikutan #30HariMenulisSuratCinta ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih maznyaaa. Sehat selalu : ))

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia