Pantai itu, dulu....

Parangtritis,  17 Juli 2012.




Aku, kamu, mereka.
Disini kita bahas saja antara aku, kamu dan kita.

Keinginan ku untuk melihat hamparan pasir, ombak yang menggulung, angin yang semilir akhirnya kamu wujudkan. Terimakasih sebelumnya kepada kamu yang telah mewujudkannya. Senang? Lebih dari itu. Dimisalkan anak kecil yang gembira kala diberikan sebuah balon oleh ibunya, ya aku seperti itu. Berlebihan? Tidak. Dimisalkan anak kecil yang menangis karna balon nya pecah, apakah itu berlebihan? Ah, itu sebuah kewajaran.

Kita, ya aku dan kamu. Dengan sebuah mesin yang diciptakan orang yang bisa membawa kita kemana saja, kita menuju pantai itu. Parangtritis, Yogyakarta. Sore hari aku dan kamu menuju kesana. Untuk apa? Bertemu dengan senja dan mengiringi matahari kembali ke peraduannya. Aku, dibalut dengan jeans favourite ku, kaos lengan panjang abu ku dan kerudung merahku. Sedangkan kamu, jeans mu dan kaos putih mu menjadikan indahnya melihat mu hari itu.

Kita sampai, mengucap salam kepada luasnya air membentang, mengucap salam kepada semilir angin yang berhembus, mengucap syukur pastinya kepada Tuhan karna telah megizinkan dua hamba-Nya bertekuk lutut menikmati keindahan alam ciptaan-Nya. Kala itu matahari bersahabat. Dia mengerti bahwa dua orang yang mungkin sedang berada dalam nuansa cinta ingin menikmati indahnya Parangtritis sore itu.

Setapak demi tapak langkah kaki aku dan kamu dipasir itu membentuk telapak kaki kita. Kamu dan aku menyusuri luasnya pantai yang ada. Tak banyak kata yang terucap, hanya terasa hangat sangat jemari mu mengisi kekosongan jemariku. Sesekali mata ini melihat wajahmu, ya lebih tepatnya senyummu. Diri ini hanya ingin memastikan apa kau bahagia menikmati pantai ini bersamaku. 

Kaki ku dan kaki mu sama basahnya, saat kita mencoba menyapa ombak dan mendapat sapaan yang baik dari ombak itu. Tapi tak sepenuhnya aku yakin kita bahagia, ya banyak keraguan yang tak terbaca. Ku coba menikmati, mungkin ini akan jadi yang pertama dan terakhir jemari mu mengisi jemariku. 

Aku tak pernah membeci angin yang mengingatkan ku, karna angin itu membawa merdu suaramu saat menyebut nama ku. Aku tak pernah membenci ombak yang karnanya kita tertawa bahagia saat menghindari ombak itu datang. Aku tak pernah membeci pasir pantai itu, yang disana ku tuliskan nama kita berdua. Aku tak pernah membencimu, karna kamu membuat kenangan indah dipantai itu. Aku hanya benci diriku sendiri yang tak pernah bisa melupakan semua itu, dan berkali kali diri ini memaafkan aku yang berada dalam ketidakbisaan untuk melupakan.

Terimakasih untukmu, telah membawa ku ke pantai itu......
Teruntuk kamu, KA!



*is he my boyfriend? No! Dia adalah lelaki dewasa yang sempat mengisi dan mewarnai hariku, yang kini telah bahagia bersama wanita pilihannya. Aku pun bahagia karna aku sadar dia bukan yang terbaik untukku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia