Gunakan imajinasimu..baca ceritaku...

AKU=PAGI





Ya sebut saja aku pagi.... Sekian banyak perempuan menginginkan dirinya untuk menjadi senja aku bertahan untuk tetap menjadikan diriku sebagai pagi.. Aku tau senja elok dan mempesona tapi akan kah terus seperti itu? Akankah tetap terus ada senja ketika awan mendung datang? Tidak.... Keelokan dan pesona senja tak selama nya ada. Bagaimana dengan pagi? Selalu ada bukan? Bayangkan kalo tak ada pagi, ah mungkin saja tak ada kehidupan. Sama dengan diriku, tak ada diriku yaa tak ada nya kehidupan.

Pernah aku menyerah, menyerah sebagai pagi, menyerah karna terlalu iri dengan senja, menyerah karna selalu saja senja yang dipuja sedangkan aku tidak, menyerah karna teman ku hanya matahari dan langit biru, menyerah karna malam yang ku inginkan tak memilihku...

Tapi sang penjaga malam yang menguatkan ku. Dia bilang "Pagi akan jauh lebih berarti jika kau tau arti sebenarnya", nah kalimat itulah yang tetap meneguhkan ku untuk menjadikan diriku sebagai pagi.. Aku sadar meski tak ada yang memujaku, tak ada yang menginginkan aku ada, tak ada yang pernah menyukai diriku, karna aku sebagai pagi hanya mengganggu, mengganggu tidur mereka yang lelap, sedangkan temanku matahari telah terbit menyilaukan mata mereka sehingga mereka harus segera sadar dari dunia yang paling indah yaa sebut saja dunia mimpi.


AKU=PEMUJA MALAM

Ya.... aku pagi. Aku pun pemuja malam.. Bukan malam yang penuh bintang dan dengan bulan penuh yang ku puja tapi malam yang selalu menjajikan keindahan dengan ketidaksempurnaannya. Akan ku certikan dua malam kali ini.


Pertama sebut saja 'malam itu'. Ya... malam itu... istimewa. Banyak bintang? Tidak... Bulan Penuh? Ah, tidak juga... Lalu apanya yang istimewa? Dia istimewa karna keadaanya yang tertutup dengan awan mendung. Loh apa yang istimewa dari awan mendung? Ah itu dia,,,, aku senang melihatnya, dengan awan mendung itulah dia menjadi dirinya yang tak sombong yang tak angkuh tetap bersahaja bersama bumi. Terkadang awan mendungnya bergeser nampak lah bintang terang, lalu dengan segera awan mendung itu menutupi bintang itu lagi, mengapa demikian? Ah kan sudah ku katakan dia malam yang tak sombong, tak ingin terlihat sempuran walaupun banyak hal yang telah menunjukan kesempuranaannya. Dia pun dengan senang hati mengijinkan hujan untuk turun sebagai hiasan malamnya, sama seperti ku, dia penikmat hujan. Terkadang meski dengan setengah hati, dia tetap mengijinkan petir menyambar dalam malamnya, yaaaa katanya semua berhak tampil untuk menunjukan suatu kehebatan di bumi ini.

Tapi.....malam itu...telah milik senja. Ya dia punya senja sekarang.. Senja yang indah, yang elok nian, ah mata yang sakit pun akan sembuh bila melihatnya.. Aku senang? Tidak sama sekali.. Aku sedih? Ah, juga tidak, mengapa harus bersedih bukankah masih banyak malam yang lainnya? Ya aku sebagai pagi hanya bisa mengamati, melihat dan menikmati kebahagiaan mereka sebagai malam dan senja yang istimewa :").

Lalu,, malam kedua sebut saja 'malam ini'. Malam yang ini....misterius.. Banyak pertanyaan yang mengangkasa untuk malam ini. Banyak keanehan yang tercipta oleh malam ini. Banyak rindu pula yang malam ini buat bila sehari tak mendengar cerita dari malam ini. Aku senang, bila malam ini sedang baik, karna apa? Karna dia akan menaburkan jutaan bintang indah dilangitnya, ah itu lah yang membuat ku sulit melupakannya. Dan aku benci bila malam ini mulai menunjukan kemisteriusannya. Bulan tak ada, jangan kan bulan, bintangpun enggan muncul dilangitnya. Hanya pertanyaan pertanyaan yang mengangkasa yang menghiasi langit malamnya..

Aku pikir aku menyukai malam ini, karna aku selalu menantikannya, aku selalu merindukannya dan kelak berharap malam ini selalu bisa berbintang dilangitnya bahkan Sang Bulan rela untuk jadi penghias langitnya. Tapi yaaa aku tak tau pasti akan kah ini bisa terwujud atau tidak, yang bisa tau hanya malam yang misterius ini. ku yakin hanya dirinya saja yang tau, apa apa saja yang berhak menghiasi langit malamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia