Seminggu
Perjalanan ku dimulai,
aku akan kembali menapaki kaki pada kota, yang di mana untuk pertama kali, kamu berucap cinta.
Aku bersemangat. Seakan-akan menunggangi kuda, aku berpacu dengan cepat.
Di dalam kereta, semua berisi tentang kamu, tentang rindu dan temu.
Aku berdoa dalam-dalam. Oh, Tuhan inikah hasil dari benih rindu yang berbulan-bulan kemarin tlah ku tanam?
Sebuah bahagia,
yang perlahan-lahan tumbuh dan akan segera mekar.
Sederhananya bahagia ku, kamu datang menyambutku,
dengan kedua tangan membentang,
mempersilahkan ku untuk datang, dalam peluk mu yang telah ku bayangkan.
Aku tak pernah meminta lebih, tak ada ingin ku untuk berjalan di atas karpet merah menuju singgasana mu.
Ingin ku, hanya,
mendengar suara mu menyerukan kalimat "Akhirnya kau datang"
.........
Kaki tlah menginjak pada tanah kota yang mempertemukan kita.
Kita, yang mana dulu di tiap celahnya, membuat kenangan agar orang-orang dapat melihat,
bahwa cinta kita banyak, bahwa kita menyebar cinta di manapun kaki melangkah.
Hari pertama, kedua, ketiga, hampir 24 jam dalam hidupku berisikan kamu, bukan lagi bayangmu.
Hari keempat, kelima, masih juga dengan kamu. Meski terkadang di jam-jam tertentu ada marah yang datang, adalah kita yang tak pernah berubah sejak menjabat tangan untuk berkenalan.
Hari keenam, jam-jam terakhir yang kita nikmati sebelum ada lagi jarak yang datang.
24 jam terakhir, rasanya aku tak ingin tidur, tak ingin mengedipkan mata
tak ingin satu tarikan napas ku tanpa melihat senyum yang kau punya.
Memohon-mohon belas kasih Tuhan agar memperlambat jalannya waktu, tapi nampaknya Tuhan tak setuju. Tuhan menginginkan kita untuk tetap maju, tak hanya diam pada tempat yang sama.
Hari ketujuh, sebelum salam perpisahan kau ucapakan, sebelum cium kening kau berikan, sebelum peluk untuk melepaskan kau berikan,
aku tak pernah tahu apa artinya menunggu,
sampai aku tersadar
kamu, adalah alasan untuk ku bersabar.
menantidetik-detik, menit-menit, jam-jam, hari-hari, minggu-minggu, pertemuan selanjutnya.
dari aku,
yang belum seminggu, sudah lagi merindu.
aku akan kembali menapaki kaki pada kota, yang di mana untuk pertama kali, kamu berucap cinta.
Aku bersemangat. Seakan-akan menunggangi kuda, aku berpacu dengan cepat.
Di dalam kereta, semua berisi tentang kamu, tentang rindu dan temu.
Aku berdoa dalam-dalam. Oh, Tuhan inikah hasil dari benih rindu yang berbulan-bulan kemarin tlah ku tanam?
Sebuah bahagia,
yang perlahan-lahan tumbuh dan akan segera mekar.
Sederhananya bahagia ku, kamu datang menyambutku,
dengan kedua tangan membentang,
mempersilahkan ku untuk datang, dalam peluk mu yang telah ku bayangkan.
Aku tak pernah meminta lebih, tak ada ingin ku untuk berjalan di atas karpet merah menuju singgasana mu.
Ingin ku, hanya,
mendengar suara mu menyerukan kalimat "Akhirnya kau datang"
.........
Kaki tlah menginjak pada tanah kota yang mempertemukan kita.
Kita, yang mana dulu di tiap celahnya, membuat kenangan agar orang-orang dapat melihat,
bahwa cinta kita banyak, bahwa kita menyebar cinta di manapun kaki melangkah.
Hari pertama, kedua, ketiga, hampir 24 jam dalam hidupku berisikan kamu, bukan lagi bayangmu.
Hari keempat, kelima, masih juga dengan kamu. Meski terkadang di jam-jam tertentu ada marah yang datang, adalah kita yang tak pernah berubah sejak menjabat tangan untuk berkenalan.
Hari keenam, jam-jam terakhir yang kita nikmati sebelum ada lagi jarak yang datang.
24 jam terakhir, rasanya aku tak ingin tidur, tak ingin mengedipkan mata
tak ingin satu tarikan napas ku tanpa melihat senyum yang kau punya.
Memohon-mohon belas kasih Tuhan agar memperlambat jalannya waktu, tapi nampaknya Tuhan tak setuju. Tuhan menginginkan kita untuk tetap maju, tak hanya diam pada tempat yang sama.
Hari ketujuh, sebelum salam perpisahan kau ucapakan, sebelum cium kening kau berikan, sebelum peluk untuk melepaskan kau berikan,
aku tak pernah tahu apa artinya menunggu,
sampai aku tersadar
kamu, adalah alasan untuk ku bersabar.
menanti
dari aku,
yang belum seminggu, sudah lagi merindu.
Komentar
Posting Komentar